Amalan salah kaprah yang sudah membudaya (Part 1)



Saban hari (sok sunda gt..hehe), kita sering mendengar kata “Jazakumullah” keluar dari mulut orang yang ingin mengucapkan terima kasih kepada orang lain. Selain itu, ada juga kata-kata lainnya seperti “barakallah”, “antum”, “waiyyakum”, “syukron”, dsb yang merupakan kata-kata dlm bahasa Arab yang sangat familiar dlm pergaulan sehari-hari di Indonesia (minimal di beberapa kampus di Surabaya,hehe..). Namun, tahukah teman-teman apa makna kata-kata tersebut? Apakah teman-teman sudah memastikan bahwa kata-kata yang teman-teman gunakan tersebut sudah sesuai dengan kaidah bahasa Arab atau hadits-hadits Rasulullah? Untuk itu, saya ingin sedikit sharing2 kepada teman-teman mengenai hal ini..

Untuk kali ini saya akan membahas mengenai yang “Jazakumullah”…

“Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan jazaakallahu khoiron (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.” (HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-mukhtarah: 4/1321, Ibnu Hibban: 3413, Al-Bazzar dalam musnadnya:7/54. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi)

Berdasarkan hadits tersebut, setelah kata “jazaakallah” diikuti oleh kata “khoiron”, mengapa? Karena “jaazakumullah” atau “jaazakallah” artinya hanya “semoga Allah membalas kalian/anda”. Makanya pengucapan “jazaakallah” dan “jazaakumullah” butuh pada penambahan kata “khoiron”. Tidak cukup hanya mengatakan “jazaakallah” atau “jazaakumullah”. Jadi, kalau ada yang mengatakan cuma “jazaakallah” saja, berarti itu salah. Karena maksudnya, semoga Allah membalas … tapi membalas dengan apa? Dengan kebaikan atau dengan keburukan? Mirisnya, masih ada sebagian orang yang mengucapkan “jazaakallah” saja.

Ada beberapa ketentuan dalam mengucapkan jazakallah (tergantung objek percakapan):

– jazaakallahu khoiron (engkau, lelaki)

– jazaakillahu khoiron (engkau, perempuan)

– jazaakumullahu khoiron (kamu sekalian)

– jazaahumullahu khoiron (mereka)

Lalu bagaimana dengan orang yang mengucapkan “syukron” untuk mengungkapkan rasa terima kasih mereka? Apakah kata “syukron” juga boleh digunakan?

Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi ketika ditanya: “Apa hukumnya mengucapkan, “Syukron (terimakasih)” bagi seseorang yang telah berbuat baik kepada kita, ustadz??”

Beliau menjawab: Yang melakukan hal tersebut sudah meninggalkan perkara yang lebih utama, yaitu mengatakan, “Jazaakallaahu khoiron (semoga ALLAH membalas kebaikanmu.” Dan pada Allah-lah terdapat kemenangan.” Sumber: Fath Rabbil-Wadood Fil-Fataawaa war-Rasaa’il war-Rudood 1/68, no. 30.

Jadi sebenarnya boleh dengan kata “syukron”, tapi hal ini bukan merupakan kata yang utama. Karena kalau mau dapat pahala lebih (sesuai dengan hadits gitu^^), maka yang lebih afdhal dan utama adalah “Jazaakallahu khoiron”.

Yang terakhir, bagaimana cara membalas seseorang yang sudah mengucapkan “jazakallahu khoiron” pada kita? Sebagian orang sering membalas dengan mengatakan “wa iyyakum”, apakah hal ini benar?

Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah Ta’ala ketika ditanya: apakah ada dalil bahwa ketika membalasnya dengan mengucapkan “wa iyyakum” (dan kepadamu juga)?

Beliau menjawab: “tidak ada dalilnya, sepantasnya dia juga mengatakan “jazakallahu khoiron” (semoga Allah membalasmu kebaikan pula), yaitu dido’akan sebagaimana dia berdo’a, meskipun perkataan seperti “wa iyyakum” sebagai athaf (mengikuti) ucapan “jazaakum”, yaitu ucapan “wa iyyakum” bermakna “sebagaimana kami mendapat kebaikan, juga kalian” ,namun jika dia mengatakan “jazakalallahu khoiron” dan menyebut do’a tersebut secara nash, tidak diragukan lagi bahwa hal ini lebih utama dan lebih afdhal.”

So..Jawaban yang paling utama dan afdhal adalah membalas kembali dengan mengatakan “jazakallahu khoiron” bukan “wa iyyakum”.

Tunggu part 2 yang akan membahas lebih banyak lagi Amalan salah kaprah yang sudah mem-“budaya”..Oke teman2..mohon dibenarkan apabila ada kesalahan, karena ilmu saya masih sangat terbatas. Tetapi sudah merupakan kewajiban bagi kita untuk bisa terus belajar ilmu, terutama ilmu agama. Al-Imam Al-Bukhari (dalam kitab Al-Ilmu) beliau berkata, “Ilmu itu sebelum berkata dan beramal”. So, bagi yang mau perkataan dan amalannya baik, belajarlah!^^

Semoga bermanfaat. Wassalamu’alaikum.

Advertisements

Pentingnya Peran Pemerintah dalam Kemajuan Research & Development Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang di dunia saat ini. Menurut UNDP pada tahun 2008, berdasarkan nilai HDI (Human Development Index), Indonesia hanya berada pada peringkat 107 dari 179 negara. Berdasarkan peringkat tersebut, nilai HDI Indonesia termasuk rendah, bahkan jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya. Kemajuan bangsa Indonesia (dengan parameter HDI) masih cukup rendah dikarenakan oleh banyak hal. Salah satu alasannya adalah Indonesia masih bergantung pada korporasi atau negara asing dalam pemenuhan kebutuhan negaranya. Pengembangan Indonesia menjadi terhambat karena tanpa dukungan asing, Indonesia tidak akan dapat memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Kondisi ini akan sangat berbahaya apabila negara atau korporasi asing yang menjalin hubungan kerjasama dengan Indonesia melakukan suatu kerjasama yang lebih menguntungkan salah satu pihak secara tidak adil. Contohnya adalah kondisi Indonesia dalam memenuhi kebutuhan BBM. Indonesia yang memiliki kekayaan minyak mentah yang berlimpah (produksi minyak mentah Indonesia kurang lebih 1 juta barel tiap hari), saat ini tidak mampu mengolahnya menjadi BBM yang siap digunakan, sehingga harus mengekspor minyak mentah kemudian baru mengimpornya kembali dalam bentuk yang siap pakai. Hal ini tentu merugikan Indonesia karena kita mengekspor minyak mentah dengan harga yang rendah sementara mengimpornya kembali dengan harga yang tinggi.

Sesungguhnya, dengan pengembangan riset dan yang penelitian baik, Indonesia akan dapat memenuhi kebutuhan negaranya secara mandiri dan tak tergantung dengan pihak asing. Kita bisa mengambil contoh dari beberapa negara berkembang lain yang seharusnya kondisinya kurang lebih sama dengan Indonesia. Iran saat ini merupakan negara berkembang yang unggul di dunia dalam bidang bioteknologi, teknologi nuklir, dan aerospace engineering. Padahal Iran merupakan negara yang diembargo secara ekonomi, akan tetapi Iran masih dapat unggul di berbagai bidang tersebut. Hal ini tentu bukan tanpa alasan. Pemerintah Iran menempatkan pengembangan melalui Research & Development sebagai prioritas utama negrinya. Selain contoh Iran tersebut, ada juga kecenderungan bahwa semakin ”maju” suatu negara, perhatian di bidang Research & Development-nya semakin tinggi. Hal ini dapat dilihat dari anggaran Research & Developmen tiap negara. Menurut R & D Magazine pada tahun 2005, anggaran Research & Development negara maju rata-rata 2,3-3,5% per GDP (Gross Domestic Product ) negaranya. Berdasarkan 2nd Worl Science Forum 2005 di Budapest, UNESCO telah menyatakan munculnya tiga negara berkembang yang telah masuk ke dalam negara-negara produksi atau sumber science dan teknologi. Ketiga negara tersebut ialah Cina, India, dan Brazil. Presentase R&D per GDP tiap negara dari ketiga negara tersebut adalah lebih dari 1%. Hal ini bertolak belakang dengan negara-negara berkembang dan miskin lainnya, termasuk Indonesia. Menurut LIPI pada tahun 2004, presentase R&D per GDP Indonesia hanya berkisar 0,1 %!

Kondisi pengembangan riset di Indonesia yang masih rendah disebabkan kurangnya dukungan pemerintah kita. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya alokasi dana APBN untuk bidang riset dan pengembangan. Pemerintah juga turut andil dalam rendahnya pemahaman rakyat mengenai filosofi: ”Jika bisa buat, mengapa harus beli?” dikarenakan rata-rata produk dalam negri (yang seharusnya menjadi tanggungan pemerintah) yang kualitasnya tidak sebanding dengan produk asing. Hal ini membuat masyarakat menjadi tergantung dengan produk negara lain dan kurang mencintai produk dalam negri. Selain itu, terjadi fenomena dimana banyak ilmuwan Indonesia yang melakukan brain drain (tersebarnya ilmuwan Indonesia di luar negri) yang salah satunya disebabkan oleh kurangnya perhatian pemerintah terhadap mereka.

Dalam menghadapi beberapa permasalahan di atas, pemerintah Indonesia harus segera berpikir cepat dalam mencari solusi yang tepat. Yang paling utama, pemerintah harus meningkatkan anggaran untuk bidang Research & Development dan anggaran pendidikan. Pemerintah juga harus serius melaksanakan berbagai program untuk memanfaatkan anggaran dana tersebut. Hal ini penting untuk dilakukan, karena selama ini banyak program pemerintah yang rendah pengawasan, sehingga dalam pelaksanaannya tidak sebaik yang direncanakan (dalam bidang kesehatan contohnya adalah program Jamkesmas). Pemerintah juga dapat mengambil contoh dari beberapa negara lain dalam usaha membangun riset dan pengembangannya. Pemerintah India dan Iran menetapkan suatu kebijakan brain gain policy untuk mengantisipasi derasnya arus brain drain para ilmuwan mereka. Menurut Amin Rais dalam bukunya ”Selamatkan Indonesia!”, brain gain policy adalah membuat jaringan dengan para ilmuwan dari suatu negara yang tersebar di luar negri, utamanya di Eropa dan AS, dan memanfaatkannya untuk kepentingan dalam negri. Hal-hal itulah yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah negara kita untuk masa depan bangsa Indonesia yang mandiri dan tak tergantung pada pihak lain. Mari kita terus berjuang untuk kemajuan bangsa kita!

 

Sumpah Mahasiswa Kedokteran Indonesia,, yang saat ini jarang dikumandangkan..

Kami mahasiswa kedokteran Indonesia, intelektual muda bangsa yang cinta tanah air dan persatuan dengan berlandaskan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berjanji:
1. Menjunjung tinggi budi pekerti luhur dan martabat profesi Kedokteran.
2. Mengoptimalkan segala potensi dan sumber daya yang kami miliki, demi kesehatan bangsa
3. Menjadi teladan dan garda terdepan bagi pembangunan Indonesia.

Makassar, 20 Mei 2008 Atas nama mahasiswa Kedokteran Indonesia

Masih ingatkah kita dengan sumpah ini? bahkan di beberapa event BEM maupun ISMKI saja saya jarang mendengar dikumandangkannya sumpah ini,,Padahal di dalamnya terkandung suatu tekad dan semangat yang menyatukan pergerakan seluruh mahasiswa kedokteran Indonesia,,

sudah saatnya kita mengumandangkan dan menggelorakannya kembali, sumpah kita, sumpah mahasiswa kedokteran Indonesia.

JAMKESMAS, Sudahkah Menjamin Kesehatan Masyarakat?

Dimuat oleh kabarindonesia.com pada 27-Jun-2009, 00:16:34 WIB

dapat dilihat di:

http://www.kabarindonesia.com/beritaprint.php?id=20090626224148

KabarIndonesia – JAMKESMAS (Jaminan Kesehatan Masyarakat) yang disahkan oleh SK Menkes No. 125 tahun 2008, dibuat untuk menambal kekurangan yang terjadi ketika penyelenggaraan ASKESKIN. Perubahan ini menempatkan PT ASKES hanya mengurusi masalah kepesertaan saja, sedangkan penyaluran dana langsung dari kas negara yang langsung dikelola Depkes (Depatemen Kesehatan). Akan tetapi, dalam penyelenggaraan program JAMKESMAS ternyata masih belum dapat menyelesaikan berbagai permasalahan kesehatan di Indonesia, terutama kesehatan rakyat miskin. Di antara permasalahan tersebut adalah mengenai aspek pendanaan kepada PPK (Pemberi Pelayanan Kesehatan) yang merupakan permasalahan yang paling mendasar dari dulu. Hal ini dikarenakan aspek tersebut tidak hanya berimplikasi bagi rumah sakit dengan tenaga medis tetapi juga pada upaya pelayanan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

Sistem JAMKESMAS menuntut agar PPK dapat menetapkan tarif sesuai dengan paket pembayaran yang disesuaikan dengan kelas Rumah Sakit yang tercantum dalam INA-DRG (Indonesia – Diagnosted Related Group). PPK juga diharuskan untuk memberikan obat seperti yang tercantum dalam Formularium Obat di Rumah Sakit untuk JAMKESMAS. Dengan sistem seperti ini, RS dengan tipe yang lebih rendah akan mendapatkan porsi dana yang lebih sedikit, sedangkan biaya operasional seringkali sama antara rumah sakit kelas C dengan rumah sakit kelas yang lebih tinggi. Hal ini menyebabkan kekhawatiran bahwa RS dengan kelas lebih rendah akan merujuk ke kelas yang lebih tinggi, bukan karena tingkat keseriusan penyakit tetapi karena dana yang diberikan tidak menutupi biaya operasional. Ditambah lagi dengan formularium obat tanpa adanya jaminan kepada perusahaan farmasi penghasil obat generik, seringkali obat generik yang tercantum dalam formularium tidak ditemukan di pasaran, hingga menyulitkan pihak pasien maupun dokter yang menangani.

Selain permasalahan tersebut, sistem pendanaan JAMKESMAS yang diambil seluruhnya dari APBN  sektor kesehatan juga bertentangan dengan visi UU no. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional yang menggariskan bahwa Jaminan Kesehatan bersifat nasional berdasarkan prinsip-prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas. Dengan total alokasi dana 4,6 triliyun (dana kesehatan dalam APBN 2008) untuk 74,6 juta rakyat miskin, maka masyarakat miskin hanya mendapat jatah jaminan kesehatan sebesar Rp 5000 per orang per bulan. Jumlah tersebut sangat minim untuk bisa menjamin kesehatan seseorang apalagi untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Sebetulnya permasalahan-permasalahan tersebut dapat diatasi dengan berbagai cara. Salah satunya adalah memperluas cakupan asuransi kesehatan, bukan hanya untulk warga miskin, melainkan dibangun suatu sistem asuransi sosial kesehatan secara nasional yang mencakup seluruh lapisan masyarakat. Hal ini seperti yang sudah dilakukan di beberapa negara yang sudah maju di bidang kesehatan. Pembayaran berasal dari premi yang ditetapkan berdasarkan tingkat penghasilan tiap orang. Bagi masyarakat miskin, preminya dibayar oleh pemerintah, sedangkan yang mampu tentu membayar sendiri sesuai dengan tingkat penghasilannya. Dengan sistem asuransi kesehatan nasional, seluruh potensi finansial masyarakat dapat dihimpun untuk secara kolektif mengatasi biaya kesehatan.

Selain itu, program JAMKESMAS harus melakukan peningkatan dalam hal pendataan yang seharusnya lebih terkomputerisasi dan sistematis. Lalu dalam aspek penyelenggaraan obat generik yang murah, yang harus dilakukan adalah melindungi perusahaan farmasi pemasok obat generik dengan membuat Undang-undang yang berpihak kepada mereka, sehingga mereka dapat terus bersaing dengan obat merk lain. Selain itu, JAMKESMAS juga seharusnya meningkatkan konsentrasinya pada aspek promosi kesehatan, tidak hanya aspek kuratif saja. Dengan promosi kesehatan yang baik, terntu masyarakat akan lebih waspada terhadap penyakit, dengan menjalankan pola hidup sehat yang benar.

Berdasarkan pemaparan di atas, program JAMKESMAS sesungguhnya masih belum dapat mengatasi permasalahan kesehatan yang ada di Indonesia. Ini tentunya merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah kita dalam mengupayakan program yang lebih baik untuk ke depannya.  Hal ini juga merupakan tugas bagi kita sebagai mahasiswa untuk terus mengkritisi kebijakan pemerintah serta memberikan solusi-solusi dalam memecahkan permasalahan-permasalahan di negeri kita tercinta. Bukankah kalau rakyat Indonesia sehat, negara kita akan semakin maju?  (*)

Gerakan Massal “Storytelling” sebagai Upaya Meningkatkan Kecerdasan Moral Anak pada Usia Golden Age

Anak merupakan investasi yang sangat penting bagi penyiapan sumber daya manusia (SDM) di masa depan. Memberikan perhatian terhadap kebutuhan anak di setiap masa tumbuh kembangnya, merupakan salah satu langkah yang tepat untuk menyiapkan generasi unggul yang akan meneruskan perjuangan bangsa.

Menurut Murdiono, pakar tumbuh kembang anak dari UNY, saat usia dini merupakan tahap perkembangan anak yang paling penting. Hal ini dikarenakan usia dini adalah masa keemasan (golden age) bagi perkembangan otak anak dan hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia. Kosasih (2008) menambahkan bahwa “The Golden Age” atau “Usia Masa Emas” seorang manusia berlangsung ketika ia berumur 0 – 6 tahun berdasarkan UU Sisdiknas Tahun 2003.

Masa awal anak-anak juga disebut masa anak usia prasekolah. Di tahap ini, anak mengalami perkembangan fisik dan psikologik. Perkembangan motorik anak usia prasekolah juga semakin baik, sejalan dengan perkembangan kognitifnya yang mulai kreatif dan imajinatif. Daya imajinatif yang tinggi, membuat anak semakin suka menemukan hal-hal baru. Informasi yang diberikan secara berulang-ulang dapat disimpan dalam jangka waktu yang lebih lama  (Koyan, 2000).

Namun sayangnya, perkembangan zaman justru mengacaukan informasi-informasi yang seharusnya diperoleh anak pada tahap periode perkembangan, khususnya untuk anak usia prasekolah. Kebebasan informasi melalui media-media seperti televisi dan internet dalam era globalisasi seperti saat ini, sebenarnya sudah melampaui batas kewajaran. Melalui media, sering kali lagu-lagu yang bertema percintaan, perselingkuhan, pemujaan berlebih terhadap kekasih, ataupun film-film tentang perkelahian, perebutan warisan, hedonisme, dan eksploitasi sensualitas wanita terekspos dengan gamblangnya. Tidak dapat dipungkiri, konsumen dari berbagai informasi yang disuguhkan oleh media-media tersebut bukanlah hanya orang dewasa yang dianggap telah memiliki kematangan mental untuk memilah-milah konten informasi yang mereka terima, anak-anak pun juga dapat dengan bebas menerima semua informasi ini dengan segala keterbatasan pikiran dan pengetahuan mereka, sehingga tidak jarang informasi-informasi tersebut dipersepsikan secara salah.

Salah satu contoh pengaruh buruk media terhadap perkembangan anak dapat dilihat pada Sandi, seorang balita dari Malang yang beberapa tahun lalu terkenal melalui videonya di youtube. Sandi terkenal bukan karena prestasi atau kelebihannya, tetapi karena video yang menampilkan Sandi sedang merokok dan berbicara “kotor”. Setelah ditelusuri, ternyata sejak umur 1,5 tahun Sandi sudah kecanduan merokok dan fasih mengeluarkan kata-kata yang tidak semestinya itu. Apa yang membuat Sandi bersikap seperti ini?

Menurut seorang psikolog dunia, Robert Coles, penyebab utama dari rendahnya moralitas yang dimiliki oleh seorang anak adalah akibat dari masuknya informasi yang tidak baik kepada anak dan juga rendahnya perhatian dari orangtua dalam mendidik anak.

Kuncinya adalah Moralitas

Penanaman nilai moral anak usia dini dapat dilakukan oleh orangtua, guru-guru di taman bermain, maupun sanak saudara yang sering berinteraksi dengan anak tersebut. Dalam pelaksanaannya, banyak metode yang dapat digunakan oleh orangtua atau guru. Namun sebelum memilih dan menerapkan metode pembelajaran, ada yang ada perlu diketahui oleh para orangtua atau pengajar tentang metode yang akan dipakai, karena ini akan berpengaruh terhadap optimal tidaknya keberhasilan penanaman nilai moral tersebut.

Metode dalam penanaman nilai moral kepada anak usia dini sangatlah bervariasi, diantaranya bercerita, bernyanyi, bermain, bersajak dan karya wisata. Masing-masing metode mempunyai kelemahan dan kelebihan. Namun, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mukhamad Murdiono pada tahun 2008, dari beberapa metode yang digunakan tersebut, yang paling efektif dan disukai anak adalah bercerita. Metode penanaman nilai moral tersebut ternyata dapat berpengaruh terhadap perubahan perilaku seorang anak dari yang tidak baik menjadi baik.

Mengapa metode cerita ini efektif? Jawabannya tidak sulit. Pertama, cerita pada umumnya lebih berkesan daripada nasehat murni, sehingga pada umumnya cerita terekam jauh lebih kuat dalam memori manusia. Cerita-cerita  didengar dimasa kecil seringkali masih dapat  diingat secara utuh selama berpuluh-puluh tahun kemudian. Kedua, melalui cerita anak diajar untuk mengambil hikmah tanpa merasa digurui. Penggunaan metode cerita akan membuat anak lebih nyaman daripada diceramahi dengan segerobak nasehat yang berkepanjangan.

Cerita: Asupan Lezat bagi Perkembangan Anak

Membacakan dongeng atau cerita untuk anak memiliki banyak manfaat. Terutama bagi perkembangan untuk masa depan anak. Ikatan emosional yang terbangun antara orangtua atau guru dengan anak dapat memperkuat kecerdasan emosinya (Emotional Quotient/ EQ). Selain itu cerita yang didengarkan dapat merangsang daya imajinasi anak dan dapat memupuk kreativitas dan berbagai ide yang tumbuh dari cerita. Inilah kekuatan cerita atau dongeng yang dibacakan oleh orangtua. Bahkan dikatakan oleh para pakar guruan bahwa 15 menit membacakan cerita kepada anak, mulai dari lahir hingga usia 5 tahun, sama dengan memberikan jutaan kalori gizi bagi otak si kecil yang sedang tumbuh kembang.

Psikolog dari Rumah Sakit Thamrin International, Jakarta, Octaviani I. Ranakusuma mengatakan bahwa dengan membacakan cerita kepada anak secara rutin setiap harinya, selain hubungan orangtua dengan anak semakin dekat, orangtua secara tak langsung telah memasukkan ide-ide baru dengan cara yang  terbaik. Melalui cerita, imajinasi anak juga tumbuh dengan sendirinya.  Tak hanya itu, melalui dongeng selama 15 menit setiap hari, sejak anak lahir hingga usia lima tahun, Anda juga telah memberikan jutaan  kalori gizi bagi otak buah hati yang sedang tumbuh.

Sebenarnya cerita bisa memompa anak untuk mengembangkan kecerdasan yang dimiliki, terutama kecerdasan interpersonal, intrapersonal, dan logika. Euis Sunarti dalam bukunya, ”Menggali Kekuatan Cerita” mengemukakan bahwa cerita dapat memberikan sosialisasi karakter melalui penggalian kekuatan storytelling untuk menanamkan ”hidden model” dalam benak anak, meningkatkan kemampuan eksplorasi anak melalui pencarian contoh lain seperti karakter tokoh cerita dalam kehidupan sehari-hari, membangun kemampuan analisa dan keterampilan pemecahan masalah berkaitan dengan perilaku berkarakter, meningkatkan kemampuan anak untuk mengimplementasikan konsep karakter dalam kehidupan sehari-hari, dan menanamkan konsep diri positif melalui kekuatan kalimat afirmatif.

And, How Will the Story Begin?

Sebelum bercerita, orangtua atau guru harus memahami terlebih dahulu tentang cerita apa yang hendak disampaikannya, tentu saja disesuaikan dengan karakteristik anak-anak usia dini. Agar dapat bercerita dengan menarik, orangtua guru harus memahami pengambilan materi cerita dan teknik bercerita yang tepat, seperti dijelaskan berikut ini.
1. Pemilihan tema dan judul yang tepat

Bagaimana cara memilih tema cerita yang tepat berdasarkan usia anak? Seorang pakar psikologi guruan bernama Charles Buhler mengatakan bahwa anak hidup dalam alam khayal. Anak-anak menyukai hal-hal yang fantastis, aneh, yang membuat imajinasinya “menari-nari”. Bagi anak-anak, hal-hal yang menarik, berbeda pada setiap tingkat usia, misalnya:

  1. Sampai pada usia 4 tahun, anak menyukai dongeng fabel dan horor, seperti: “Si Tomat yang Hebat”, “Anak Ayam yang Manja”, cerita tentang nenek sihir, cerita tentang raksasa yang menyeramkan, dan sebagainya.
  2. Pada usia 4-8 tahun, anak menyukai dongeng jenaka, tokoh pahlawan/ hero dan kisah tentang kecerdikan, seperti: “Gatotkaca”, “Si Cerdik Abu Nawas”, “Si Kancil”, dan sebagainya.
  3. Pada usia 8-12 tahun, anak-anak menyukai dongeng petualangan fantastis rasional atau sage, seperti: “Persahabatan si Pintar dan si Pikun”, “Karni Juara Menyanyi”, dan sebagainya.

2. Waktu Penyajian

Dengan mempertimbangkan daya pikir, kemampuan bahasa, rentang konsentrasi dan daya tangkap anak, maka para ahli dongeng menyimpulkan sebagai berikut:

  1. Sampai usia 4 tahun, waktu cerita hingga 7 menit
  2. Usia 4-8 tahun, waktu cerita hingga 10 -15 menit
  3. Usia 8-12 tahun, waktu cerita hingga 25 menit

Namun tidak menutup kemungkinan waktu bercerita menjadi lebih panjang, apabila tingkat konsentrasi dan daya tangkap anak dirangsang oleh penampilan pencerita yang sangat baik, atraktif, komunikatif dan humoris.

3.Teknik Bercerita

Orang tua atau guru perlu mengasah keterampilannya dalam bercerita, baik dalam olah vokal, olah gerak, bahasa dan komunikasi serta ekspresi. Seorang pencerita harus pandai-pandai mengembangkan berbagai unsur penyajian cerita sehingga terjadi harmoni yang tepat.

Kesan pertama begitu menggoda selanjutnya ….terserah anda”, Kalimat yang mengingatkan kita pada salah satu produk yang diiklankan. Hal ini mengingatkan pula betapa pentingnya membuka suatu cerita dengan sesuatu cara yang menggugah. Membuka cerita merupakan saat yang sangat menentukan, maka dibutuhkan teknik yang memiliki unsur penarik perhatian yang kuat, diantaranya dapat dilakukan dengan pernyataan kesiapan : “Hari ini ibu telah siapkan sebuah cerita yang sangat menarik…” atau dengan potongan cerita: “Pernahkah ananda mendengar, kisah tentang seorang anak yang terjebak di tengah banjir..?

Pemunculan tokoh dan visualisasi tempat juga memegang peran penting agar anak lebih memahami alur cerita: “dalam cerita kali ini, ada 4 orang tokoh penting…yang pertama adalah seorang anak yang jago main karate…namanya Adiba”, “pada zaman dahulu kala, di tengah hutan, ada sebuah kerajaan yang bernama ..

Selain itu, yang paling utama dalam bercerita adalah penggunaan ekspresi emosi; adegan orang marah, menangis, gembira, berteriak-teriak dan lain-lain. Orangtua atau guru juga dapat memulai cerita dengan memunculkan berbagai macam suara seperti; suara ledakan, suara aneka binatang, suara bedug, tembakan dan lain-lain.

Dalam menutup cerita, dapat diselipkan berbagai evaluasi pada anak yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti: tanya jawab seputar nama tokoh dan perbuatan mereka yang harus dicontoh maupun ditinggalkan, doa khusus memohon terhindar dari memiliki kebiasaan buruk seperti tokoh yang jahat, dan agar diberi kemampuan untuk dapat meniru kebaikan tokoh yang baik, serta janji untuk berubah menjadi lebih baik.

Untuk dapat menguasai aspek-aspek keterampilan teknis dari penyajian cerita, tentu membutuhkan persiapan yang matang. Kemampuan bercerita untuk dapat menyajikan berbagai unsur diatas secara padu, hanya dapat dikuasai dengan pengalaman dan latihan-latihan yang tekun, misalnya dengan membisakan diri menyempatkan diri untuk bercerita sebelum anak tidur. cerita yang dilakukan oleh orangtua sebelum tidur akan mampu membentuk kepribadian anak. Ketika cerita moral-spiritual itu disampaikan sebelum tidur, seringkali dibawa anak sampai ke alam mimpi. Alam bawah sadar merekalah yang menguatkan cerita itu hingga kelak dewasa.

Namun, kedahsyatan sebuah cerita saat ini sudah menjadi barang langka. Orangtua dan guru seringkali menginginkan sesuatu secara instan. Masih sedikit yang menganggap cerita itu penting. Kalaulah ada yang menganggap bahwa cerita itu penting masih kalah dengan kepentingan lain. Terutama kesibukan yang telah mendorong untuk menghilangkan kemauan untuk bercerita. Oleh karena itu, sebagai orangtua, guru, dan pemuda yang peduli akan masa depan anak-anak kita, sangatlah perlu kita hidupkan kembali budaya storytelling kepada anak sebelum tidur atau ketika santai dengan anak-anak. Semoga dengan cerita itu anak-anak kita mampu mengembangkan kecerdasan emosional dan spiritual yang dimiliki sehingga moral bisa terbangun secara sistematis. Ayo kita dukung gerakan massal storytelling di Indonesia!

-Juara II lomba Essay se-Surabaya oleh SWAYANAKA-

Daftar Pustaka

Coles, Robert. Menumbuhkan Kecerdasan Moral pada Anak. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Kosasih. 2008. Perkembangan dan Pengembangan Anak di Usia Taman Kanak-Kanak. Jakarta : Grasindo.

Koyan, I Wayan.  2000.  Pendidikan  moral  pendekatan  lintas  budaya.  Jakarta: Depdiknas.

Kurtines, William M. dan Gerwitz Jacob L. 1992. Moralitas, Perilaku Moral, dan Perkembangan Moral. Penerjemah: M.I. Soelaeman. Jakarta: UI-Press.

Moeslichatoen R..1999.  Metode  pengajaran  di  taman  kanak-Kanak.  Jakarta: Rineka Ciipta

Murdiono, Mukhamad. 2008.  Metode Penanaman Nilai Moral untuk Anak Usia Dini. Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Negri Yogyakarta.

Ranakusuma, Octaviani I. 2005.  Dasar-dasar  pendidikan  anak  usia  dini.  Yogyakarta: Hikayat.

Wuryandani, Wuri. 2006. Strategi Bercerita Untuk Menanamkan Nilai Moral Pada Anak Usia Dini Majalah Ilmiah Pembelajaran, Volume 2, Nomor 2.

Metode “Spiritual Parenting” = Solusi untuk Peningkatan Moralitas Anak Bangsa

Pada tahun 2006 di Preston, Inggris, telah terjadi satu peristiwa yang mengejutkan seluruh dunia. Robert Thompson dan Jon Venables, dua bocah yang masih berusia sebelas tahun, telah menculik, menyiksa, dan membunuh seorang bocah lain berumur dua tahun, James Bulger. Thompson maupun Venables menghantamkan batu bata, batu,kayu dan potongan besi ke arah kepala James. Mata bocah balita itu pun disiram cat dan akhirnya terbunuh. Mayat Bulger ditemukan dua hari kemudian dan kedua pelaku pembunuhan itu ditangkap di rumahnya. Thompson dan Venables akhirnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup di penjara khusus anak-anak atas tidak kriminalitas yang telah mereka lakukan.

Tak hanya di Inggris, di negeri kita, Indonesia, juga banyak terdapat fakta mengejutkan terkait kejahatan ataupun tindakan amoral yang dilakukan oleh anak-anak. Masih ingat kisah tentang Sandi? Sandi adalah seorang balita dari Malang yang sejak umur 1,5 tahun sudah kecanduan merokok dan fasih mengeluarkan kata-kata “kotor”.

Selain kisah tentang Sandi, ada juga kisah dari Kediri, Jawa Timur. Kasus kejahatan yang melibatkan anak di bawah umur 18 tahun yang ditangani Balai Pemasyarakatan Kediri, Jawa Timur terus menunjukkan peningkatan. Selama tahun 2007, Bapas Kediri telah menerima 291 kasus kejahatan. Angka itu lebih tinggi dibandingkan pada tahun 2006 yang hanya 248 kasus kejahatan Menurut Kepala Bapas Kediri, kasus kejahatan anak-anak itu didominasi oleh kasus pencurian, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, pencabulan, dan pembunuhan.

Berbagai peristiwa tersebut hanyalah sebagian kecil dari banyaknya kejahatan ataupun tindakan amoral yang dilakukan oleh anak-anak yang terjadi di seluruh dunia yang juga melanda negeri kita, Indonesia. Setelah ditelusuri, ternyata terdapat kesamaan dari berbagai peristiwa tersebut. Menurut Kepala Bapas Kediri, anak-anak yang melakukan tindak kejahatan tersebut berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah yang kurang mendapatkan perhatian dari orangtua. Begitupun dengan Robert Thompson dan Jon Venables. Kedua anak tersebut ternyata berasal dari dua keluarga yang broken home. Berdasarkan data dan fakta tersebut, penulis akan menganalisis mengenai hubungan antara moralitas yang dimiliki oleh seorang anak dengan metode asuhan orang tuanya.

Orangtua dan Anak, Ibarat Petani dan Tanamannya

Pernahkah Anda mendengar peribahasa yang tertulis pada subjudul di atas? Orangtua dan anak, ibarat petani dan tanamannya. Baik buruknya tanaman, sangat ditentukan oleh perlakuan si petani. Jika ia memilih dan menyiapkan ladang subur untuk benihnya, lalu senantiasa menyiraminya dengan air yang bersih, ditambah dengan perawatan yang teratur, niscaya tanamannya pun akan tumbuh subur. Sebaliknya, jika petani memilih dan menyiapkan ladang gersang untuk bibitnya, menanamnya pun asal-asalan, rumput dan gulma tak pernah disiangi, air pun mengalir kadang-kadang, maka tanaman pun akan tumbuh layu bahkan mati.

Perkembangan penalaran moral anak menurut ahli psikologi dunia, Hurlock dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu pembawaan (heredity) dan faktor lingkungan. Faktor pembawaan terkait dengan perkembangan kecerdasan anak dengan berubahnya kemampuan dalam menangkap dan mengerti terhadap suatu informasi, yang membawa seorang anak bergerak ke tingkat perkembangan penalaran moral yang lebih tinggi. Sedangkan faktor lingkungan meliputi lingkungan keluarga, yaitu orang tua yang merupakan pendidikan awal bagi anak dalam penanaman nilai moral, lingkungan sebaya yaitu interaksi dengan teman sebaya, dan juga lingkungan sekolah.

Selain itu, berdasarkan literatur dari agama Islam, Nabi Muhammad pernah bersabda: “Tidaklah seorang anak yang lahir itu kecuali dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi (penyembah api).” (Hadits Riwayat Muslim).

Berdasarkan kutipan dari Hurlock dan Nabi Muhammad, maka peribahasa orang tua dan anak yang ibarat petani dan tanamannya merupakan hal yang sangat relevan. Hal ini berarti aspek moralitas yang dimiliki oleh seorang anak sangat bergantung dari apa yang diberikan oleh orang tuanya. Sehingga, apabila ada seorang anak melakukan tindak kejahatan ataupun tindakan amoral, dapat dikatakan bahwa itu dikarenakan oleh salahnya asuhan yang diberikan oleh kedua orang tuanya.

Sifat-sifat dasar dan moralitas akan berkembang sesuai dengan lingkungan pendidikan yang dialami anak. Menurut psikolog Wuri Wuryandani, pembentukan kepribadian tidak bisa diserahkan kepada sekolah atau lembaga pendidikan lainnya di luar rumah. Pembentukan kepribadian paling dini dan paling berpengaruh untuk seorang anak justru dimulai dari lingkungan paling kecil dan sederhana, yaitu lingkungan keluarga dalam rumah tangga.

Pada era ini, pola asuh yang banyak digunakan di negri ini adalah pola asuh permisif dan otoritatif. Menurut Maimunah Hasan, pada bukunya “Pendidikan Anak Usia Dini”, pola asuh permisif adalah jenis pola mengasuh anak yang tidak acuh terhadap anak. Sehingga, apapun yang dilakukan oleh anak, orangtua akan memperbolehkannya, walaupun tindakan yang dilakukan anak negatif. Selain pola asuh permisif, ada juga pola asuh otoriter. Pola asuh otoriter adalah pola pengasuhan anak yang bersifat keras dan kaku dimana orang tua akan membuat berbagai aturan yang “saklek” atau harus dipatuhi oleh anak-anaknya tanpa memperhatikan perasaan sang anak. Kedua pola asuhan tersebut, menurut Dwi Siswoyo (2005), akan menyebabkan pengaruh buruk terhadap kesadaran moral atau spiritual anak disamping kecerdasan emosionalnya.

Kalau kita perhatikan kembali filosofi peribahasa atau perumpamaan “orangtua dan anak, ibarat petani dan tanamannya”, maka kita juga harus menyadari bahwa moralitas yang dimiliki oleh seorang anak ketika kecil merupakan cerminan moralitas anak tersebut ketika dewasa kelak. Apabila sejak kecil sudah terbiasa mencuri buah mangga dari pohon tetangganya, mungkin di masa depan dia akan terbiasa melakukan tindakan korupsi senilai milyaran rupiah.

Penerapan Metode Spiritual Parenting kepada Anak Sejak Dini

Apakah Spiritual Parenting itu? Apa keunggulan metode spiritual parenting dengan metode lainnya? Menurut Robert Coles, pada bukunya “Menumbuhkan Kecerdasan Moral pada Anak”, spiritual parenting adalah pola asuh yang menempatkan Tuhan pada urutan tertinggi, dalam sikap dan perilaku yang diterapkan oleh orang tua dalam berinteraksi dengan anak, meliputi cara orang tua memberikan perhatian serta aturan-aturan yang dibuat orang tua terhadap anaknya dan juga bagaimana mengakrabkan konsep Tuhan kepada anak sejak usia dini.

Mimi Doe, dalam buku “10 prinsip spiritual parenting”, penerapan spiritual parenting tidak jauh berbeda dengan pendidikan agama yang diterapkan selama ini. Bedanya, metode baru ini tidak “mencekoki” anak dengan doktrin-doktrin ketuhanan, akan tetapi merangsang anak untuk berpikir tentang Tuhan. Bagaimana caranya berpikir atau melogikakan Tuhan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus memahami kisah pencarian Tuhan dari Ibrahim.

Inilah salah satu kisah yang terdapat pada kitab suci agama Islam, Al Qur’an: Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang dan berkata, ”Inikah Tuhanku?”. Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, ”Aku tidak suka kepada yang terbenam”. Kemudian ketika dia melihat matahari terbit dia berkata, ”Inikah Tuhanku? Yang ini lebih besar.” Tetapi, ketika matahari terbenam, dia berkata, ”Wahai kaumku! Sungguh aku berlepas diri apa yang kamu persekutukan!”

Kisah dari Nabi Ibrahim di atas, menunjukkan bahwa untuk memahami eksistensi dari Tuhan, perlu adanya suatu proses berpikir. Apabila anak dapat berpikir, untuk memahami eksistensi Tuhan, maka anak itu akan lebih menerima Tuhan dengan segala peraturan dan norma-Nya. Berpikir mengenai Tuhan dan segala peraturannya, merupakan inti dari metode spiritual parenting.

Bagaimana contoh penerapan spiritual parenting ini? Menurut Irianto, terdapat empat prinsip mendasar pada metode spiritual parenting. Pertama, membiarkan kreativitas anak-anak untuk bertanya, terutama pertanyaan yang fundamental (fundamental question), misalnya menyangkut alam raya, keberadaan Tuhan, cinta, keadilan, dan lain-lain. Pertanyaan sekecil apapun yang dilontarkan mereka, tetap memerlukan jawaban yang bijaksana sehingga bisa merangsang pertanyaan selanjutnya yang lebih fundamental.

Prinsip yang kedua adalah mendengarkan mereka dengan penuh cinta, sehingga mereka bebas untuk mengekspresikan perasaan, khayalan dan perspektifnya. Anak-anak akan lebih merasa bebas untuk membagi pemikiran dan pengalaman hidupnya hanya ketika mereka berada dalam lingkungan yang menerimanya. Jadilah orang tua yang bisa dipercaya anak-anak untuk mengungkapkan perasaannya. Sebab pada dasarnya, anak-anak memiliki perasaan mendalam seperti layaknya orang dewasa, tetapi mereka belum mempunyai perbendaharaan kata yang cukup untuk mengungkapnya.

Kedua prinsip spiritual parenting tersebut dilakukan melalui dialog antara orangtua dengan anak. Bagaimana dialog yang baik antara anak dan orang tuanya? Sekali lagi kita akan belajar dari kisahnya Ibrahim, kali ini dengan putranya, Ismail. Ketika menerima perintah dari Tuhan untuk menyembelih Ismail, Ibrahim tidak langsung serta merta melaksanakan perintah tersebut. Sebelumnya, dia menanyakannya kepada Ismail terlebih dahulu. Sesudah Ismail menyatakan persetujuannya untuk disembelih, barulah Ibrahim melaksanakan perintah itu. Kisah tersebut menunjukkan bahwa seorang anak harus dilibatkan sejak dini dalam berpikir dan pengambilan keputusan.

Ketiga, memberikan suatu makna pada aktivitas keagamaan yang bisa disaksikan, dilakukan, dan dialami secara langsung oleh anak-anak. Dalam Islam misalnya ada pelajaran shalat jenazah. Antarkan anak-anak untuk memahami kehidupan dan kematian ini dengan cara yang bijaksana. Sehingga kematian bisa menjadi spirit untuk menatap kehidupan selanjutnya, bukan menjadi sesuatu yang menakutkan. Dari sinilah diharapkan, potensi spiritualitas yang dimiliki anak-anak akan bersinar dan selanjutnya akan melahirkan kesadaran diri (self-awareness) pada diri mereka sebagai kriteria tertinggi dari kecerdasan spiritual (spiritual quotient/ SQ).

Keempat, mencoba menghadirkan kehadiran Tuhan pada anak-anak pada saat berdoa, beribadah, ataupun saat melakukan aktivitas yang lainnya. Pada awalnya anak-anak merasa Tuhan itu “jauh”, tetapi dengan latihan yang disertai ketekunan, maka seorang anak pada akhirnya akan merasakan bahwa dia memang membutuhkan Tuhan sebagai sumber kekuatan, sehingga akan tercipta relasi spiritual antara dirinya dan Tuhan. Saat itulah, dia akan terhindar dari segala kegelisahan, keputusasaan, dan krisis diri yang lain, karena merasakan Tuhan berada sangat dekat, melindunginya, dan memberinya energi kehidupan.

Selain keempat prinsip tersebut, metode spiritual parenting juga mengharuskan orang tua untuk menunjukkan suatu yang sangat penting: keteladanan. Keteladanan berarti melakukan sesuatu yang dapat menjadi contoh atau inspirasi bagi seorang anak. Apabila orang tua mengajarkan kepada anak untuk tidak mencuri dari orang lain, maka orang tua pun tidak boleh mencuri. Berdasarkan pemaparan tersebut, spiritual parenting ini mengharuskan orang tua untuk menjadi pribadi yang berketuhanan dan memiliki moralitas yang tinggi. David J. Lieberman mengatakan bahwa agar orang lain mau berubah menjadi lebih baik, maka kita harus merubah diri kita sendiri. Pendidikan moralitas melalui spiritual parenting tidak hanya melalui dialog dan praktik, tetapi juga melalui keteladanan.

Melalui pemaparan di atas, spiritual parenting bisa menjadi solusi terhadap moralitas anak bangsa yang semakin menurun. Untuk itu, perlu kontribusi dari kita semua untuk mensosialisasikan dan merealisasikannya. Go Spiritual Parenting!

– Juara I lomba Essay se-Surabaya oleh SWAYANAKA- 

 

Daftar Referensi

Coles, Robert. 2000. Menumbuhkan kecerdasan moral pada anak. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Lieberman, David J. 2005. Agar Siapa Saja Mau Berubah untuk Anda. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

Doe, Mimi dan Marsha Walch. 10 Prinsip Spiritual Parenting. 2001. Jakarta: Mizan.

Hasan, Maimunah. 2009. Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Diva Press

Hidayat, Otib Satibi. 2000. Metode Pengembangan Moral dan Nilai-Nilai Agama. Jakarta: Universitas Terbuka.

Hurlock, Elizabeth. 1998. Perkembangan Anak Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Kompas. 2010. Kasihan, Balita Dibiarkan Mencandu Rokok. http://kesehatan.kompas.com/read/2010/04/04/09350158/Kasihan.Balita.Dibiarkan.Mencandu.Rokok

Media Indonesia. 2006. Pembunuhan Termuda di Inggris. Jakarta: Harian Media Indonesia.

Siswoyo, Dwi, dkk. 2005. Metode Pengembangan Moral Anak Prasekolah. Yogyakarta: FIP UNY.