Pada era kita sekarang, teknologi berkembang pesat, arus informasi yang mengalir tiada henti menghubungkan belahan bumi satu dengan belahan bumi lainnya, alat-alat canggih mampu meningkatkan produksi industri secara pesat, dan lain sebagainya. Itulah gambaran dunia kita saat ini, penuh dengan otomasi dan kepraktisan yang diakibatkan oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini akan berdampak ke berabagai sektor dalam kehidupan kita, termasuk bidang kedokteran.
Saat ini, banyak diagnosa medis yang yang dapat diproses komputer dengan kecepatan dan ketepatan yang tak dapat didekati manusia. Sejumlah software dan program-program onlline mincul yang memungkinkan para pasien untuk menjawab serangkaian pertanyaan di layar-layar komputernya dan sampai pada tahap diagnose awal tanpa bantuan seorang dokter pun. Pelanggan pelayanan kesehatan mulai menggunakan alat-alat tersebut untuk mengetahui risiko dari penyakit-penyakit yang serius seperti gagal jantung dan kanker, lalu membuat putusan-putusan perawatan yang penting ketika mereka didiagnosa. Saat ini saja, menurut Laura Landro dalam Wall Street Journal, sekitar 100 juta orang di dunia mengakses internet untuk mencari informasi medis dan kesehatan dan mengunjungi lebih dari 23.000 situs-situs web kesehatan. Ketika pasien mendiagnosa sendiri dan menyumbat kolam informasi yang sama yang tersedia untukj para dokter, alat-alat ini sedang mentransformasi peran seorang dokter sebagai pnyedia solusi yang serba tahu dalam dunia kesehatan. Dan apabila ini terus berlanjut, di masa depan bukan hal yang mustahil apabila komputer ”mengambil alih” peran dokter secara keseluruhan.

Bidang kedokteran merupakan bidang yang memiliki kecenderungan dominasi penggunaan otak kiri. Dimana daya analisa yang berurutan berperan sangat penting untuk membangun sebuah diagnosa suatu penyakit. Menurut Daniel H. Pink dalam bukunya yang berujudul A Whole New Mind, manusia memiliki dua konsep kecenderungan dalam berpikir dan beraktivitas yaitu L-Directed Thinking dan R-Directed Thinking. L-Directed Thinking merupakan bentuk pemikiran dan sebuah sikap hidup yang merupakan ciri khas belahan otak sebelah kiri yaitu berurutan, literal, fungional, tekstual, dan analitis. Pendekatan inilah yang dihargai begitu tingi oleh dunia profesional dan ditekankan pada pendidikan para pelajar kita saat ini. Pendekatan yang kedua adalah R-Directed Thinking. Ia merupakan bentuk pemikiran dan sebuah sikap hidup yang merupakan ciri khas bagi belahan otak kanan yaitu simultan, metaforis, estetis, kontekstual, dan sintesis. Pengguanaan R-Directed Thinking suatu saat akan menjadi lebih dominan dikarenakan penggunaan L-Directed Thinking akan tergusur oleh kemampuan yang dimiliki oleh komputer dan teknologi termutakhir.

Walaupun peran dokter suatu saat sudah tidak dominan lagi, tetapi ada hal-hal yang tak dapat dilakukan oleh komputer dan tekonologi modern. Hal tersebut ialah kemampuan berempati dengan pasien yang merupakan salah satu kecerdasan dari tipe R-Directed Thinking. Empati adalah kemampuan untuk merasakan apa sepertinya yang akan terjadi jika menjadi orang lain. Empati dapat mengenali emosi-emosi, empati memungkinkan kita melihat sisi lain dari sebuah argumen, empati menyenangkan seseorang yang sedang terkena malah, dan empati menyediakan kerangka pendukung bagi moralitas kita.

Keefektifan berkomunikasi didapatkan apabila sesorang yang komunikan dapat memahami maksud dari perkataan yang diucapkan oleh komunikator. Melalui empati, isyarat-isyarat non verbal yang sangat dominan dalam komunikasi akan mudah ditangkap dan dimengerti. Melalui empati ini, akan terjalin komunikasi yang baik antara dokter dan pasien yang akan menghasilkan keuntungan dalam proses penyembuhan, yaitu: Pertama, dengan berlaku empatik, seorang dokter bisa membina sambung rasa dengan pasien sehingga akan timbul keterbukaan antara pasien dan dokter. Kedua, dengan timbulnya keterbukaan antara pasien dan dokter, seorang pasiean akan lebih leluasa dan jujur untuk menyampaikan keluhannya. Ketiga, dengan merasakan apa yang pasien derita, seorang dokter akan termotivasi untuk berbuat secara maximal dalam melakukan pengobatan. Keempat, dengan adanya empati, komunikasi, dan keterbukaan, seorang pasien akan lebih termotivasi untuk terus hidup sehingga akan berdampak positif terhadap proses kesembuhan pasien. Kelima, dalam membangun suatu diagnosa, melalui empati seorang dokter bisa mengetahui pesan tersembunyi yang hanya ditafsirkan melalui pemahaman nonverbal.

Dengan pengguanaan kecerdasan empati ini, diharapkan seorang dokter dapat menjalankan fungsinya dengan lebih optimal. Sehingga seorang dokter dapat memenuhi tugas-tugas mulia yang diharapkan masyarakat seperti yang terdapat dalam sumpah dokter Indonesia, yaitu: ”Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan.”