Pada tahun 2006 di Preston, Inggris, telah terjadi satu peristiwa yang mengejutkan seluruh dunia. Robert Thompson dan Jon Venables, dua bocah yang masih berusia sebelas tahun, telah menculik, menyiksa, dan membunuh seorang bocah lain berumur dua tahun, James Bulger. Thompson maupun Venables menghantamkan batu bata, batu,kayu dan potongan besi ke arah kepala James. Mata bocah balita itu pun disiram cat dan akhirnya terbunuh. Mayat Bulger ditemukan dua hari kemudian dan kedua pelaku pembunuhan itu ditangkap di rumahnya. Thompson dan Venables akhirnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup di penjara khusus anak-anak atas tidak kriminalitas yang telah mereka lakukan.

Tak hanya di Inggris, di negeri kita, Indonesia, juga banyak terdapat fakta mengejutkan terkait kejahatan ataupun tindakan amoral yang dilakukan oleh anak-anak. Masih ingat kisah tentang Sandi? Sandi adalah seorang balita dari Malang yang sejak umur 1,5 tahun sudah kecanduan merokok dan fasih mengeluarkan kata-kata “kotor”.

Selain kisah tentang Sandi, ada juga kisah dari Kediri, Jawa Timur. Kasus kejahatan yang melibatkan anak di bawah umur 18 tahun yang ditangani Balai Pemasyarakatan Kediri, Jawa Timur terus menunjukkan peningkatan. Selama tahun 2007, Bapas Kediri telah menerima 291 kasus kejahatan. Angka itu lebih tinggi dibandingkan pada tahun 2006 yang hanya 248 kasus kejahatan Menurut Kepala Bapas Kediri, kasus kejahatan anak-anak itu didominasi oleh kasus pencurian, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, pencabulan, dan pembunuhan.

Berbagai peristiwa tersebut hanyalah sebagian kecil dari banyaknya kejahatan ataupun tindakan amoral yang dilakukan oleh anak-anak yang terjadi di seluruh dunia yang juga melanda negeri kita, Indonesia. Setelah ditelusuri, ternyata terdapat kesamaan dari berbagai peristiwa tersebut. Menurut Kepala Bapas Kediri, anak-anak yang melakukan tindak kejahatan tersebut berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah yang kurang mendapatkan perhatian dari orangtua. Begitupun dengan Robert Thompson dan Jon Venables. Kedua anak tersebut ternyata berasal dari dua keluarga yang broken home. Berdasarkan data dan fakta tersebut, penulis akan menganalisis mengenai hubungan antara moralitas yang dimiliki oleh seorang anak dengan metode asuhan orang tuanya.

Orangtua dan Anak, Ibarat Petani dan Tanamannya

Pernahkah Anda mendengar peribahasa yang tertulis pada subjudul di atas?Orangtua dan anak, ibarat petani dan tanamannya. Baik buruknya tanaman, sangat ditentukan oleh perlakuan si petani. Jika ia memilih dan menyiapkan ladang subur untuk benihnya, lalu senantiasa menyiraminya dengan air yang bersih, ditambah dengan perawatan yang teratur, niscaya tanamannya pun akan tumbuh subur. Sebaliknya, jika petani memilih dan menyiapkan ladang gersang untuk bibitnya, menanamnya pun asal-asalan, rumput dan gulma tak pernah disiangi, air pun mengalir kadang-kadang, maka tanaman pun akan tumbuh layu bahkan mati.

Perkembangan penalaran moral anak menurut ahli psikologi dunia, Hurlock dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu pembawaan (heredity) dan faktor lingkungan. Faktor pembawaan terkait dengan perkembangan kecerdasan anak dengan berubahnya kemampuan dalam menangkap dan mengerti terhadap suatu informasi, yang membawa seorang anak bergerak ke tingkat perkembangan penalaran moral yang lebih tinggi. Sedangkan faktor lingkungan meliputi lingkungan keluarga, yaitu orang tua yang merupakan pendidikan awal bagi anak dalam penanaman nilai moral, lingkungan sebaya yaitu interaksi dengan teman sebaya, dan juga lingkungan sekolah.

Selain itu, berdasarkan literatur dari agama Islam, Nabi Muhammad pernah bersabda: “Tidaklah seorang anak yang lahir itu kecuali dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi (penyembah api).” (Hadits Riwayat Muslim).

Berdasarkan kutipan dari Hurlock dan Nabi Muhammad, maka peribahasa orang tua dan anak yang ibarat petani dan tanamannya merupakan hal yang sangat relevan. Hal ini berarti aspek moralitas yang dimiliki oleh seorang anak sangat bergantung dari apa yang diberikan oleh orang tuanya. Sehingga, apabila ada seorang anak melakukan tindak kejahatan ataupun tindakan amoral, dapat dikatakan bahwa itu dikarenakan oleh salahnya asuhan yang diberikan oleh kedua orang tuanya.

Sifat-sifat dasar dan moralitas akan berkembang sesuai dengan lingkungan pendidikan yang dialami anak. Menurut psikolog Wuri Wuryandani, pembentukan kepribadian tidak bisa diserahkan kepada sekolah atau lembaga pendidikan lainnya di luar rumah. Pembentukan kepribadian paling dini dan paling berpengaruh untuk seorang anak justru dimulai dari lingkungan paling kecil dan sederhana, yaitu lingkungan keluarga dalam rumah tangga.

Pada era ini, pola asuh yang banyak digunakan di negri ini adalah pola asuh permisif dan otoritatif. Menurut Maimunah Hasan, pada bukunya “Pendidikan Anak Usia Dini”, pola asuh permisif adalah jenis pola mengasuh anak yang tidak acuh terhadap anak. Sehingga, apapun yang dilakukan oleh anak, orangtua akan memperbolehkannya, walaupun tindakan yang dilakukan anak negatif. Selain pola asuh permisif, ada juga pola asuh otoriter. Pola asuh otoriter adalah pola pengasuhan anak yang bersifat keras dan kaku dimana orang tua akan membuat berbagai aturan yang “saklek” atau harus dipatuhi oleh anak-anaknya tanpa memperhatikan perasaan sang anak. Kedua pola asuhan tersebut, menurut Dwi Siswoyo (2005), akan menyebabkan pengaruh buruk terhadap kesadaran moral atau spiritual anak disamping kecerdasan emosionalnya.

Kalau kita perhatikan kembali filosofi peribahasa atau perumpamaan “orangtua dan anak, ibarat petani dan tanamannya”, maka kita juga harus menyadari bahwa moralitas yang dimiliki oleh seorang anak ketika kecil merupakan cerminan moralitas anak tersebut ketika dewasa kelak. Apabila sejak kecil sudah terbiasa mencuri buah mangga dari pohon tetangganya, mungkin di masa depan dia akan terbiasa melakukan tindakan korupsi senilai milyaran rupiah.

Penerapan Metode Spiritual Parenting kepada Anak Sejak Dini

Apakah Spiritual Parenting itu? Apa keunggulan metode spiritual parenting dengan metode lainnya? Menurut Robert Coles, pada bukunya “Menumbuhkan Kecerdasan Moral pada Anak”, spiritual parenting adalah pola asuh yang menempatkan Tuhan pada urutan tertinggi, dalam sikap dan perilaku yang diterapkan oleh orang tua dalam berinteraksi dengan anak, meliputi cara orang tua memberikan perhatian serta aturan-aturan yang dibuat orang tua terhadap anaknya dan juga bagaimana mengakrabkan konsep Tuhan kepada anak sejak usia dini.

Mimi Doe, dalam buku “10 prinsip spiritual parenting”, penerapan spiritual parentingtidak jauh berbeda dengan pendidikan agama yang diterapkan selama ini. Bedanya, metode baru ini tidak “mencekoki” anak dengan doktrin-doktrin ketuhanan, akan tetapi merangsang anak untuk berpikir tentang Tuhan. Bagaimana caranya berpikir atau melogikakan Tuhan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus memahami kisah pencarian Tuhan dari Ibrahim.

Inilah salah satu kisah yang terdapat pada kitab suci agama Islam, Al Qur’an: Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang dan berkata, ”Inikah Tuhanku?”. Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, ”Aku tidak suka kepada yang terbenam”. Kemudian ketika dia melihat matahari terbit dia berkata, ”Inikah Tuhanku? Yang ini lebih besar.” Tetapi, ketika matahari terbenam, dia berkata, ”Wahai kaumku! Sungguh aku berlepas diri apa yang kamu persekutukan!”

Kisah dari Nabi Ibrahim di atas, menunjukkan bahwa untuk memahami eksistensi dari Tuhan, perlu adanya suatu proses berpikir. Apabila anak dapat berpikir, untuk memahami eksistensi Tuhan, maka anak itu akan lebih menerima Tuhan dengan segala peraturan dan norma-Nya. Berpikir mengenai Tuhan dan segala peraturannya, merupakan inti dari metode spiritual parenting.

Bagaimana contoh penerapan spiritual parenting ini? Menurut Irianto, terdapat empat prinsip mendasar pada metode spiritual parenting. Pertama, membiarkan kreativitas anak-anak untuk bertanya, terutama pertanyaan yang fundamental (fundamental question), misalnya menyangkut alam raya, keberadaan Tuhan, cinta, keadilan, dan lain-lain. Pertanyaan sekecil apapun yang dilontarkan mereka, tetap memerlukan jawaban yang bijaksana sehingga bisa merangsang pertanyaan selanjutnya yang lebih fundamental.

Prinsip yang kedua adalah mendengarkan mereka dengan penuh cinta, sehingga mereka bebas untuk mengekspresikan perasaan, khayalan dan perspektifnya. Anak-anak akan lebih merasa bebas untuk membagi pemikiran dan pengalaman hidupnya hanya ketika mereka berada dalam lingkungan yang menerimanya. Jadilah orang tua yang bisa dipercaya anak-anak untuk mengungkapkan perasaannya. Sebab pada dasarnya, anak-anak memiliki perasaan mendalam seperti layaknya orang dewasa, tetapi mereka belum mempunyai perbendaharaan kata yang cukup untuk mengungkapnya.

Kedua prinsip spiritual parenting tersebut dilakukan melalui dialog antara orangtua dengan anak. Bagaimana dialog yang baik antara anak dan orang tuanya? Sekali lagi kita akan belajar dari kisahnya Ibrahim, kali ini dengan putranya, Ismail. Ketika menerima perintah dari Tuhan untuk menyembelih Ismail, Ibrahim tidak langsung serta merta melaksanakan perintah tersebut. Sebelumnya, dia menanyakannya kepada Ismail terlebih dahulu. Sesudah Ismail menyatakan persetujuannya untuk disembelih, barulah Ibrahim melaksanakan perintah itu. Kisah tersebut menunjukkan bahwa seorang anak harus dilibatkan sejak dini dalam berpikir dan pengambilan keputusan.

Ketiga, memberikan suatu makna pada aktivitas keagamaan yang bisa disaksikan, dilakukan, dan dialami secara langsung oleh anak-anak. Dalam Islam misalnya ada pelajaran shalat jenazah. Antarkan anak-anak untuk memahami kehidupan dan kematian ini dengan cara yang bijaksana. Sehingga kematian bisa menjadi spirit untuk menatap kehidupan selanjutnya, bukan menjadi sesuatu yang menakutkan. Dari sinilah diharapkan, potensi spiritualitas yang dimiliki anak-anak akan bersinar dan selanjutnya akan melahirkan kesadaran diri (self-awareness) pada diri mereka sebagai kriteria tertinggi dari kecerdasan spiritual (spiritual quotient/ SQ).

Keempat, mencoba menghadirkan kehadiran Tuhan pada anak-anak pada saat berdoa, beribadah, ataupun saat melakukan aktivitas yang lainnya. Pada awalnya anak-anak merasa Tuhan itu “jauh”, tetapi dengan latihan yang disertai ketekunan, maka seorang anak pada akhirnya akan merasakan bahwa dia memang membutuhkan Tuhan sebagai sumber kekuatan, sehingga akan tercipta relasi spiritual antara dirinya dan Tuhan. Saat itulah, dia akan terhindar dari segala kegelisahan, keputusasaan, dan krisis diri yang lain, karena merasakan Tuhan berada sangat dekat, melindunginya, dan memberinya energi kehidupan.

Selain keempat prinsip tersebut, metode spiritual parenting juga mengharuskan orang tua untuk menunjukkan suatu yang sangat penting: keteladanan. Keteladanan berarti melakukan sesuatu yang dapat menjadi contoh atau inspirasi bagi seorang anak. Apabila orang tua mengajarkan kepada anak untuk tidak mencuri dari orang lain, maka orang tua pun tidak boleh mencuri. Berdasarkan pemaparan tersebut, spiritual parenting ini mengharuskan orang tua untuk menjadi pribadi yang berketuhanan dan memiliki moralitas yang tinggi. David J. Lieberman mengatakan bahwa agar orang lain mau berubah menjadi lebih baik, maka kita harus merubah diri kita sendiri. Pendidikan moralitas melalui spiritual parenting tidak hanya melalui dialog dan praktik, tetapi juga melalui keteladanan.

Melalui pemaparan di atas, spiritual parenting bisa menjadi solusi terhadap moralitas anak bangsa yang semakin menurun. Untuk itu, perlu kontribusi dari kita semua untuk mensosialisasikan dan merealisasikannya. Go Spiritual Parenting!

– Juara I lomba Essay se-Surabaya oleh SWAYANAKA- 

Daftar Referensi

Coles, Robert. 2000. Menumbuhkan kecerdasan moral pada anak. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Lieberman, David J. 2005. Agar Siapa Saja Mau Berubah untuk Anda. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

Doe, Mimi dan Marsha Walch. 10 Prinsip Spiritual Parenting. 2001. Jakarta: Mizan.

Hasan, Maimunah. 2009. Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Diva Press

Hidayat, Otib Satibi. 2000. Metode Pengembangan Moral dan Nilai-Nilai Agama. Jakarta: Universitas Terbuka.

Hurlock, Elizabeth. 1998. Perkembangan Anak Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Kompas. 2010. Kasihan, Balita Dibiarkan Mencandu Rokok.http://kesehatan.kompas.com/read/2010/04/04/09350158/Kasihan.Balita.Dibiarkan.Mencandu.Rokok

Media Indonesia. 2006. Pembunuhan Termuda di Inggris. Jakarta: Harian Media Indonesia.

Siswoyo, Dwi, dkk. 2005. Metode Pengembangan Moral Anak Prasekolah. Yogyakarta: FIP UNY.