Anak merupakan investasi yang sangat penting bagi penyiapan sumber daya manusia (SDM) di masa depan. Memberikan perhatian terhadap kebutuhan anak di setiap masa tumbuh kembangnya, merupakan salah satu langkah yang tepat untuk menyiapkan generasi unggul yang akan meneruskan perjuangan bangsa.

Menurut Murdiono, pakar tumbuh kembang anak dari UNY, saat usia dini merupakan tahap perkembangan anak yang paling penting. Hal ini dikarenakan usia dini adalah masa keemasan (golden age) bagi perkembangan otak anak dan hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia. Kosasih (2008) menambahkan bahwa “The Golden Age” atau “Usia Masa Emas” seorang manusia berlangsung ketika ia berumur 0 – 6 tahun berdasarkan UU Sisdiknas Tahun 2003.

Masa awal anak-anak juga disebut masa anak usia prasekolah. Di tahap ini, anak mengalami perkembangan fisik dan psikologik. Perkembangan motorik anak usia prasekolah juga semakin baik, sejalan dengan perkembangan kognitifnya yang mulai kreatif dan imajinatif. Daya imajinatif yang tinggi, membuat anak semakin suka menemukan hal-hal baru. Informasi yang diberikan secara berulang-ulang dapat disimpan dalam jangka waktu yang lebih lama  (Koyan, 2000).

Namun sayangnya, perkembangan zaman justru mengacaukan informasi-informasi yang seharusnya diperoleh anak pada tahap periode perkembangan, khususnya untuk anak usia prasekolah. Kebebasan informasi melalui media-media seperti televisi dan internet dalam era globalisasi seperti saat ini, sebenarnya sudah melampaui batas kewajaran. Melalui media, sering kali lagu-lagu yang bertema percintaan, perselingkuhan, pemujaan berlebih terhadap kekasih, ataupun film-film tentang perkelahian, perebutan warisan, hedonisme, dan eksploitasi sensualitas wanita terekspos dengan gamblangnya. Tidak dapat dipungkiri, konsumen dari berbagai informasi yang disuguhkan oleh media-media tersebut bukanlah hanya orang dewasa yang dianggap telah memiliki kematangan mental untuk memilah-milah konten informasi yang mereka terima, anak-anak pun juga dapat dengan bebas menerima semua informasi ini dengan segala keterbatasan pikiran dan pengetahuan mereka, sehingga tidak jarang informasi-informasi tersebut dipersepsikan secara salah.

Salah satu contoh pengaruh buruk media terhadap perkembangan anak dapat dilihat pada Sandi, seorang balita dari Malang yang beberapa tahun lalu terkenal melalui videonya di youtube. Sandi terkenal bukan karena prestasi atau kelebihannya, tetapi karena video yang menampilkan Sandi sedang merokok dan berbicara “kotor”. Setelah ditelusuri, ternyata sejak umur 1,5 tahun Sandi sudah kecanduan merokok dan fasih mengeluarkan kata-kata yang tidak semestinya itu. Apa yang membuat Sandi bersikap seperti ini?

Menurut seorang psikolog dunia, Robert Coles, penyebab utama dari rendahnya moralitas yang dimiliki oleh seorang anak adalah akibat dari masuknya informasi yang tidak baik kepada anak dan juga rendahnya perhatian dari orangtua dalam mendidik anak.

Kuncinya adalah Moralitas

Penanaman nilai moral anak usia dini dapat dilakukan oleh orangtua, guru-guru di taman bermain, maupun sanak saudara yang sering berinteraksi dengan anak tersebut. Dalam pelaksanaannya, banyak metode yang dapat digunakan oleh orangtua atau guru. Namun sebelum memilih dan menerapkan metode pembelajaran, ada yang ada perlu diketahui oleh para orangtua atau pengajar tentang metode yang akan dipakai, karena ini akan berpengaruh terhadap optimal tidaknya keberhasilan penanaman nilai moral tersebut.

Metode dalam penanaman nilai moral kepada anak usia dini sangatlah bervariasi, diantaranya bercerita, bernyanyi, bermain, bersajak dan karya wisata. Masing-masing metode mempunyai kelemahan dan kelebihan. Namun, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mukhamad Murdiono pada tahun 2008, dari beberapa metode yang digunakan tersebut, yang paling efektif dan disukai anak adalah bercerita. Metode penanaman nilai moral tersebut ternyata dapat berpengaruh terhadap perubahan perilaku seorang anak dari yang tidak baik menjadi baik.

Mengapa metode cerita ini efektif? Jawabannya tidak sulit. Pertama, cerita pada umumnya lebih berkesan daripada nasehat murni, sehingga pada umumnya cerita terekam jauh lebih kuat dalam memori manusia. Cerita-cerita  didengar dimasa kecil seringkali masih dapat  diingat secara utuh selama berpuluh-puluh tahun kemudian. Kedua, melalui cerita anak diajar untuk mengambil hikmah tanpa merasa digurui. Penggunaan metode cerita akan membuat anak lebih nyaman daripada diceramahi dengan segerobak nasehat yang berkepanjangan.

Cerita: Asupan Lezat bagi Perkembangan Anak

Membacakan dongeng atau cerita untuk anak memiliki banyak manfaat. Terutama bagi perkembangan untuk masa depan anak. Ikatan emosional yang terbangun antara orangtua atau guru dengan anak dapat memperkuat kecerdasan emosinya (Emotional Quotient/ EQ). Selain itu cerita yang didengarkan dapat merangsang daya imajinasi anak dan dapat memupuk kreativitas dan berbagai ide yang tumbuh dari cerita. Inilah kekuatan cerita atau dongeng yang dibacakan oleh orangtua. Bahkan dikatakan oleh para pakar guruan bahwa 15 menit membacakan cerita kepada anak, mulai dari lahir hingga usia 5 tahun, sama dengan memberikan jutaan kalori gizi bagi otak si kecil yang sedang tumbuh kembang.

Psikolog dari Rumah Sakit Thamrin International, Jakarta, Octaviani I. Ranakusuma mengatakan bahwa dengan membacakan cerita kepada anak secara rutin setiap harinya, selain hubungan orangtua dengan anak semakin dekat, orangtua secara tak langsung telah memasukkan ide-ide baru dengan cara yang  terbaik. Melalui cerita, imajinasi anak juga tumbuh dengan sendirinya.  Tak hanya itu, melalui dongeng selama 15 menit setiap hari, sejak anak lahir hingga usia lima tahun, Anda juga telah memberikan jutaan  kalori gizi bagi otak buah hati yang sedang tumbuh.

Sebenarnya cerita bisa memompa anak untuk mengembangkan kecerdasan yang dimiliki, terutama kecerdasan interpersonal, intrapersonal, dan logika. Euis Sunarti dalam bukunya, ”Menggali Kekuatan Cerita” mengemukakan bahwa cerita dapat memberikan sosialisasi karakter melalui penggalian kekuatan storytelling untuk menanamkan ”hidden model” dalam benak anak, meningkatkan kemampuan eksplorasi anak melalui pencarian contoh lain seperti karakter tokoh cerita dalam kehidupan sehari-hari, membangun kemampuan analisa dan keterampilan pemecahan masalah berkaitan dengan perilaku berkarakter, meningkatkan kemampuan anak untuk mengimplementasikan konsep karakter dalam kehidupan sehari-hari, dan menanamkan konsep diri positif melalui kekuatan kalimat afirmatif.

And, How Will the Story Begin?

Sebelum bercerita, orangtua atau guru harus memahami terlebih dahulu tentang cerita apa yang hendak disampaikannya, tentu saja disesuaikan dengan karakteristik anak-anak usia dini. Agar dapat bercerita dengan menarik, orangtua guru harus memahami pengambilan materi cerita dan teknik bercerita yang tepat, seperti dijelaskan berikut ini.
1. Pemilihan tema dan judul yang tepat

Bagaimana cara memilih tema cerita yang tepat berdasarkan usia anak? Seorang pakar psikologi guruan bernama Charles Buhler mengatakan bahwa anak hidup dalam alam khayal. Anak-anak menyukai hal-hal yang fantastis, aneh, yang membuat imajinasinya “menari-nari”. Bagi anak-anak, hal-hal yang menarik, berbeda pada setiap tingkat usia, misalnya:

  1. Sampai pada usia 4 tahun, anak menyukai dongeng fabel dan horor, seperti: “Si Tomat yang Hebat”, “Anak Ayam yang Manja”, cerita tentang nenek sihir, cerita tentang raksasa yang menyeramkan, dan sebagainya.
  2. Pada usia 4-8 tahun, anak menyukai dongeng jenaka, tokoh pahlawan/ hero dan kisah tentang kecerdikan, seperti: “Gatotkaca”, “Si Cerdik Abu Nawas”, “Si Kancil”, dan sebagainya.
  3. Pada usia 8-12 tahun, anak-anak menyukai dongeng petualangan fantastis rasional atau sage, seperti: “Persahabatan si Pintar dan si Pikun”, “Karni Juara Menyanyi”, dan sebagainya.

2. Waktu Penyajian

Dengan mempertimbangkan daya pikir, kemampuan bahasa, rentang konsentrasi dan daya tangkap anak, maka para ahli dongeng menyimpulkan sebagai berikut:

  1. Sampai usia 4 tahun, waktu cerita hingga 7 menit
  2. Usia 4-8 tahun, waktu cerita hingga 10 -15 menit
  3. Usia 8-12 tahun, waktu cerita hingga 25 menit

Namun tidak menutup kemungkinan waktu bercerita menjadi lebih panjang, apabila tingkat konsentrasi dan daya tangkap anak dirangsang oleh penampilan pencerita yang sangat baik, atraktif, komunikatif dan humoris.

3.Teknik Bercerita

Orang tua atau guru perlu mengasah keterampilannya dalam bercerita, baik dalam olah vokal, olah gerak, bahasa dan komunikasi serta ekspresi. Seorang pencerita harus pandai-pandai mengembangkan berbagai unsur penyajian cerita sehingga terjadi harmoni yang tepat.

Kesan pertama begitu menggoda selanjutnya ….terserah anda”, Kalimat yang mengingatkan kita pada salah satu produk yang diiklankan. Hal ini mengingatkan pula betapa pentingnya membuka suatu cerita dengan sesuatu cara yang menggugah. Membuka cerita merupakan saat yang sangat menentukan, maka dibutuhkan teknik yang memiliki unsur penarik perhatian yang kuat, diantaranya dapat dilakukan dengan pernyataan kesiapan : “Hari ini ibu telah siapkan sebuah cerita yang sangat menarik…” atau dengan potongan cerita: “Pernahkah ananda mendengar, kisah tentang seorang anak yang terjebak di tengah banjir..?

Pemunculan tokoh dan visualisasi tempat juga memegang peran penting agar anak lebih memahami alur cerita: “dalam cerita kali ini, ada 4 orang tokoh penting…yang pertama adalah seorang anak yang jago main karate…namanya Adiba”, “pada zaman dahulu kala, di tengah hutan, ada sebuah kerajaan yang bernama ..

Selain itu, yang paling utama dalam bercerita adalah penggunaan ekspresi emosi; adegan orang marah, menangis, gembira, berteriak-teriak dan lain-lain. Orangtua atau guru juga dapat memulai cerita dengan memunculkan berbagai macam suara seperti; suara ledakan, suara aneka binatang, suara bedug, tembakan dan lain-lain.

Dalam menutup cerita, dapat diselipkan berbagai evaluasi pada anak yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti: tanya jawab seputar nama tokoh dan perbuatan mereka yang harus dicontoh maupun ditinggalkan, doa khusus memohon terhindar dari memiliki kebiasaan buruk seperti tokoh yang jahat, dan agar diberi kemampuan untuk dapat meniru kebaikan tokoh yang baik, serta janji untuk berubah menjadi lebih baik.

Untuk dapat menguasai aspek-aspek keterampilan teknis dari penyajian cerita, tentu membutuhkan persiapan yang matang. Kemampuan bercerita untuk dapat menyajikan berbagai unsur diatas secara padu, hanya dapat dikuasai dengan pengalaman dan latihan-latihan yang tekun, misalnya dengan membisakan diri menyempatkan diri untuk bercerita sebelum anak tidur. cerita yang dilakukan oleh orangtua sebelum tidur akan mampu membentuk kepribadian anak. Ketika cerita moral-spiritual itu disampaikan sebelum tidur, seringkali dibawa anak sampai ke alam mimpi. Alam bawah sadar merekalah yang menguatkan cerita itu hingga kelak dewasa.

Namun, kedahsyatan sebuah cerita saat ini sudah menjadi barang langka. Orangtua dan guru seringkali menginginkan sesuatu secara instan. Masih sedikit yang menganggap cerita itu penting. Kalaulah ada yang menganggap bahwa cerita itu penting masih kalah dengan kepentingan lain. Terutama kesibukan yang telah mendorong untuk menghilangkan kemauan untuk bercerita. Oleh karena itu, sebagai orangtua, guru, dan pemuda yang peduli akan masa depan anak-anak kita, sangatlah perlu kita hidupkan kembali budaya storytelling kepada anak sebelum tidur atau ketika santai dengan anak-anak. Semoga dengan cerita itu anak-anak kita mampu mengembangkan kecerdasan emosional dan spiritual yang dimiliki sehingga moral bisa terbangun secara sistematis. Ayo kita dukung gerakan massal storytelling di Indonesia!

-Juara II lomba Essay se-Surabaya oleh SWAYANAKA-

Daftar Pustaka

Coles, Robert. Menumbuhkan Kecerdasan Moral pada Anak. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Kosasih. 2008. Perkembangan dan Pengembangan Anak di Usia Taman Kanak-Kanak. Jakarta : Grasindo.

Koyan, I Wayan.  2000.  Pendidikan  moral  pendekatan  lintas  budaya.  Jakarta: Depdiknas.

Kurtines, William M. dan Gerwitz Jacob L. 1992. Moralitas, Perilaku Moral, dan Perkembangan Moral. Penerjemah: M.I. Soelaeman. Jakarta: UI-Press.

Moeslichatoen R..1999.  Metode  pengajaran  di  taman  kanak-Kanak.  Jakarta: Rineka Ciipta

Murdiono, Mukhamad. 2008.  Metode Penanaman Nilai Moral untuk Anak Usia Dini. Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Negri Yogyakarta.

Ranakusuma, Octaviani I. 2005.  Dasar-dasar  pendidikan  anak  usia  dini.  Yogyakarta: Hikayat.

Wuryandani, Wuri. 2006. Strategi Bercerita Untuk Menanamkan Nilai Moral Pada Anak Usia Dini Majalah Ilmiah Pembelajaran, Volume 2, Nomor 2.