Sudah dalam beberapa bulan belakangan ini, ada seorang ”dukun tiban” cilik dari Jombang yang nama nya sedang naik daun. Dia adalah Muhammad Ponari, 10 tahun, dari Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang. Dia dipercaya oleh banyak orang dapat menyembuhkan berbagai penyakit hanya dengan cara menyelupkan ”batu bertuah” yang dia miliki ke dalam air yang kemudian diminum pasien yang datang berobat. Batu bertuah tersebut, konon didapat Ponari ketika dirinya tersambar petir dan batu tersebut muncul setelahnya begitu saja. Hingga saat ini, cukup banyak pasien Ponari yang sembuh, yang katanya, diakibatkan kemagisan batu tersebut.

Pada awal masa kepopulerannya, Ponari mampu menarik banyak minat warga untuk datang berobat. Ketika itu kurang lebih puluhan ribu pasien datang tiap harinya untuk berobat. Dan akibatnya, karena terlalu banyak orang yang mengantri, banyak kejadian buruk yang terjadi. Karena sebagian besar orang yang mengantri adalah orang-orang yang sakit, karena mengantri terlalu lama dan berdesak-desakan, maka banyak orang yang justru penyakitnya bertambah parah bahkan ada beberapa orang yang meninggal. Peristiwa ini tentu saja langsung memancing reaksi dari berbagai pihak. Akhirnya untuk beberapa saat, praktik Ponari saat itu akhirnya sempat ditutup. Tetapi karena desakan banyak orang yang ingin berobat ke Ponari, praktik Ponari akhirnya dibuka lagi dengan mekanisme pengaturan pasien yang lebih baik untuk mengantisipasi jumlah pasien yang terlalu membludak. Hal ini terjadi hingga saat ini.

Di sisi lainnya, saat ini kondisi bidang kesehatan di Indonesia berada dalam fase yang kurang baik. Menurut Menkes, Siti Fadillah Supari, beberapa waktu lalu, saat ini Indonesia memiliki derajat kesehatan yang buruk. Hal ini dapat dilihat dari indeks kesehatan Indonesia yang hanya menempati urutan 112 dari 175 negara. Hal ini disebabkan oleh tidak meratanya kondisi kesehatan di berbagai daerah, dimana ada daerah yang memang sudah sehat, tetapi di sisi lain juga masih ada yang tidak sehat.
Selain itu, kualitas kesehatan penduduk juga masih rendah, terutama dari kalangan miskin. Berbagai jenis penyakit masih menjangkiti masyarakat Indonesia. kuantitas dan kualitas lembaga pelayanan kesehatan yang tidak merata serta tak terjangkaunya biaya pengobatan olah kalangan masyarakat tidak mampu. Sikap masyarakat Indonesia yang kurang mendukung perilaku hidup sehat dan bersih juga menjadi penyebab masih rendahnya derajat kesehatan nasional.

Diterapkannya desentralisasi program dari pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota sering tidak sinkron. Kabupaten seperti terlepas dan tidak ada hubungan hirarki dengan pemerintah provinsi. Akibatnya, informasi kesehatan yang terjadi di kabupaten/kota sering tidak disampaikan ke provinsi dan pusat. Selain itu, program Jamkesmas, yang digalakkan pemerintah, dalam kenyataannya ternyata terbentur oleh banyak kendala. Mulai dari pendataan, pendistribusian, maupun mekanisme Jamkesmas ini ternyata masih tetap menyulitkan masyarakat miskin.

“Fenomena Ponari” sebetulnya selaras dengan kondisi kesehatan di Indonesia saat ini. Pelayanan kesehatan yang kurang maksimal yang didapatkan oleh masyarakat mendorong masyarakat untuk mencari jalan alternatif yang mereka kira dapat menjadi solusi bagi masalah kesehatan yang mereka hadapi. Mereka bahkan memilih Ponari sebagai salah satu solusi walaupun yang mereka lakukan tersebut adalah hal yang tak logis dan tak aman. Hal ini harus jadi renungan dan bahan introspeksi bagi kita semua, terutama orang-orang yang berkecimpung dalam dunia kesehatan untuk menemukan solusi yang tepat