Saban hari (sok sunda gt..hehe), kita sering mendengar kata “Jazakumullah” keluar dari mulut orang yang ingin mengucapkan terima kasih kepada orang lain. Selain itu, ada juga kata-kata lainnya seperti “barakallah”, “antum”, “waiyyakum”, “syukron”, dsb yang merupakan kata-kata dlm bahasa Arab yang sangat familiar dlm pergaulan sehari-hari di Indonesia (minimal di beberapa kampus di Surabaya,hehe..). Namun, tahukah teman-teman apa makna kata-kata tersebut? Apakah teman-teman sudah memastikan bahwa kata-kata yang teman-teman gunakan tersebut sudah sesuai dengan kaidah bahasa Arab atau hadits-hadits Rasulullah? Untuk itu, saya ingin sedikit sharing2 kepada teman-teman mengenai hal ini..

Untuk kali ini saya akan membahas mengenai yang “Jazakumullah”…

“Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan jazaakallahu khoiron (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.” (HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-mukhtarah: 4/1321, Ibnu Hibban: 3413, Al-Bazzar dalam musnadnya:7/54. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi)

Berdasarkan hadits tersebut, setelah kata “jazaakallah” diikuti oleh kata “khoiron”, mengapa? Karena “jaazakumullah” atau “jaazakallah” artinya hanya “semoga Allah membalas kalian/anda”. Makanya pengucapan “jazaakallah” dan “jazaakumullah” butuh pada penambahan kata “khoiron”. Tidak cukup hanya mengatakan “jazaakallah” atau “jazaakumullah”. Jadi, kalau ada yang mengatakan cuma “jazaakallah” saja, berarti itu salah. Karena maksudnya, semoga Allah membalas … tapi membalas dengan apa? Dengan kebaikan atau dengan keburukan? Mirisnya, masih ada sebagian orang yang mengucapkan “jazaakallah” saja.

Ada beberapa ketentuan dalam mengucapkan jazakallah (tergantung objek percakapan):

– jazaakallahu khoiron (engkau, lelaki)

– jazaakillahu khoiron (engkau, perempuan)

– jazaakumullahu khoiron (kamu sekalian)

– jazaahumullahu khoiron (mereka)

Lalu bagaimana dengan orang yang mengucapkan “syukron” untuk mengungkapkan rasa terima kasih mereka? Apakah kata “syukron” juga boleh digunakan?

Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi ketika ditanya: “Apa hukumnya mengucapkan, “Syukron (terimakasih)” bagi seseorang yang telah berbuat baik kepada kita, ustadz??”

Beliau menjawab: Yang melakukan hal tersebut sudah meninggalkan perkara yang lebih utama, yaitu mengatakan, “Jazaakallaahu khoiron (semoga ALLAH membalas kebaikanmu.” Dan pada Allah-lah terdapat kemenangan.” Sumber: Fath Rabbil-Wadood Fil-Fataawaa war-Rasaa’il war-Rudood 1/68, no. 30.

Jadi sebenarnya boleh dengan kata “syukron”, tapi hal ini bukan merupakan kata yang utama. Karena kalau mau dapat pahala lebih (sesuai dengan hadits gitu^^), maka yang lebih afdhal dan utama adalah “Jazaakallahu khoiron”.

Yang terakhir, bagaimana cara membalas seseorang yang sudah mengucapkan “jazakallahu khoiron” pada kita? Sebagian orang sering membalas dengan mengatakan “wa iyyakum”, apakah hal ini benar?

Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah Ta’ala ketika ditanya: apakah ada dalil bahwa ketika membalasnya dengan mengucapkan “wa iyyakum” (dan kepadamu juga)?

Beliau menjawab: “tidak ada dalilnya, sepantasnya dia juga mengatakan “jazakallahu khoiron” (semoga Allah membalasmu kebaikan pula), yaitu dido’akan sebagaimana dia berdo’a, meskipun perkataan seperti “wa iyyakum” sebagai athaf (mengikuti) ucapan “jazaakum”, yaitu ucapan “wa iyyakum” bermakna “sebagaimana kami mendapat kebaikan, juga kalian” ,namun jika dia mengatakan “jazakalallahu khoiron” dan menyebut do’a tersebut secara nash, tidak diragukan lagi bahwa hal ini lebih utama dan lebih afdhal.”

So..Jawaban yang paling utama dan afdhal adalah membalas kembali dengan mengatakan “jazakallahu khoiron” bukan “wa iyyakum”.

Tunggu part 2 yang akan membahas lebih banyak lagi Amalan salah kaprah yang sudah mem-“budaya”..Oke teman2..mohon dibenarkan apabila ada kesalahan, karena ilmu saya masih sangat terbatas. Tetapi sudah merupakan kewajiban bagi kita untuk bisa terus belajar ilmu, terutama ilmu agama. Al-Imam Al-Bukhari (dalam kitab Al-Ilmu) beliau berkata, “Ilmu itu sebelum berkata dan beramal”. So, bagi yang mau perkataan dan amalannya baik, belajarlah!^^

Semoga bermanfaat. Wassalamu’alaikum.