OPTIMALISASI PICT (PROVIDER INITIATED COUNSELING AND TESTING) SEBAGAI SOLUSI UTAMA BAGI PERMASALAHAN HIV/AIDS DI INDONESIA

ARTIKEL INI JUARA 2 KOMPETISI ESSAY ILMIAH NASIONAL DI MEDICAL FIESTA FK UB, MALANG

AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) masih menjadi ancaman besar di seluruh dunia karena telah membunuh lebih dari 25 juta jiwa. AIDS merupakan kumpulan sindrom akibat adanya infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang sel sistem kekebalan tubuh manusia sehingga kekebalan tubuh penderita AIDS menurun secara progresif, sehingga mudah diserang berbagai penyakit penyerta seperti pneumonia, tuberkulosis, meningitis, karposki sarkoma, serta penyakit lainnya yang dapat membahayakan hidup penderita AIDS. Penularan HIV dapat dengan mudah terjadi melalui kontak langsung antar membran mukosa atau darah dengan cairan tubuh yang yang terpapar virus. Berdasarkan metode transmisi virus tersebut, penularan HIV dapat terjadi melalui aktivitas seksual, penggunaan jarum suntik bersama, maupun transmisi vertikal dari ibu ke anaknya. Disebabkan oleh karena metode virus dalam melemahkan kekebalan tubuh penderita, cara transmisi virus yang sangat rentan dilakukan, serta fakta bahwa saat ini belum ada obat yang dapat efektif menyembuhkan, HIV/AIDS masih merupakan “momok” bagi dunia kesehatan dunia saat ini.

 

HIV/AIDS: Ancaman Besar Kesehatan Global saat Ini

 

Perkembangan kasus HIV /AIDS menunjukkan peningkatan yang semakin pesat dan menghawatirkan. AIDS yang pertama kali ditemukan pada tahun 1981 telah berkembang menjadi masalah kesehatan global. Menurut UNAIDS, sekitar 60 juta orang telah tertular HIV dan 25 juta telah meninggal akibat AIDS, sedangkan saati ini orang yang hidup dengan HIV sekitar 35 juta. Setiap hari terdapat 7400 orang baru terkena HIV atau lima orang per menit. Di Asia terdapat 4,9 juta orang yang terinfeksi HIV, 440 ribu di antaranya adalah infeksi baru dan telah menyebabkan kematian 300 ribu orang pada tahun 2007. Cara penularan di Asia sangat bervariasi, namun yang mendorong epidemik adalah tiga perilaku yang berisiko tinggi: seks komersial yang tidak terlindungi, berbagai alat suntik di kalangan pengguna Napza dan seks antar lelaki yang tidak terlindungi.

Perkembangan HIV/ AIDS di Indonesia merupakan yang paling pesat di Asia pada decade terakhir ini. Di Indonesia, sejak kasus AIDS pertama dilaporkan pada tahun 1987 di Bali, jumlah kasus bertambah secara perlahan menjadi 225 kasus di tahun 2000. Sejak saat itu, kasus AIDS bertambah cepat dipicu oleh penggunaan NAPZA suntik. Kementrian Kesehatan melaporkan, hingga Desember 2010, jumlah kumulatif pasien AIDS di Indonesia adalah 24.131 orang dan 55.848 orang dengan HIV. Jumlah itu tentu saja merupakan fenomena gunung es (iceberg phenomenon), di mana pada kenyataannya ada lebih banyak lagi pasien yang menderita HIV/AIDS di Indonesia. Menurut perkiraan Kemenkes RI, populasi dewasa terinfeksi HIV di Indonesia mencapai  333.200 orang, di mana di antaranya 25 % adalah perempuan. Selain itu, sebagian pasien AIDS merupakan usia produktif 25-49 tahun (88%) sehingga berdampak pada penurunan produktivitas suatu negara. Yang ironis adalah semakin meningkatnya penularan HIV dari ibu kepada bayinya sebanyak 2,6 %, padahal pada tahun 2005, angka tersebut baru 1,2 %.

Siapa subpopulasi yang terbanyak menderita HIV AIDS? Surveilans Terpadu HIV dan Perilaku (STHP) pada tahun 2007 menunjukan prevalensi HIV di Indonesia adalah: wanita penjaja seks (WPS) langsung 10,4%, WPS tidak langsung 4,6%, waria 24,4%, pelanggan WPS 0,8%, Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) 5,2%, pengguna Napza suntik 52,4 %. Selain golongan-golongan yang berisiko tinggi terinfeksi HIV tersebut, ternyata di provinsi Papua dan Papua Barat terdapat pergerakan kearah generalized epidemic dengan prevalensi  HIV sebesar 2,4% pada penduduk 15-49 tahun. Hal ini berarti, transmisi HIV di Papua dan Papua Barat dapat terjadi pada orang yang bukan berisiko tertular HIV.

Oleh karena begitu besarnya dampak yang diakibatkan oleh HIV/ AIDS, pengendalikan HIV dan AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya menjadi poin keenam dalam Millenium Development Goals (MDG’s) yang harus dicapai setiap negara pada tahun 2015. Oleh karena itu, masalah – masalah dalam penanggulangan HIV AIDS ini harus segera diatasi karena tahun 2015 akan kita lalui empat tahun lagi.

 

PICT (Provider Initiative Counseling and Testing) sebagai Program Deteksi Dini HIV/AIDS

 

Mengapa jumlah kasus HIV/ AIDS terus meningkat dari tahun ke tahun? Penularan HIV terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh yang yang terpapar virus. Berdasarkan cara infeksi tersebut, penularan HIV berisiko tinggi terjadi melalui aktivitas seksual, penggunaan jarum suntik bersama dengan penderita, maupun transmisi vertikal dari ibu ke anaknya. Angka penularan HIV terus meningkat oleh karena meningkatnya perilaku seks bebas dan konsumsi NAPZA pada era globalisasi ini. Saat ini yang terinfeksi penyakit HIV bukan hanya para pembeli dan penjaja seks tetapi suami yang menganut seks bebas telah menularkan penyakit itu ke istri dan anaknya. Mereka yang berperilaku seks bebas seharusnya bersedia memakai kondom. Penggunaan kondom dalam kurun 2002-2008 tidak bergerak naik. Penggunaaan kondom selalu berkutat di kisaran 20-30 persen padahal perilaku seks bebas terus meningkat. Selain itu, hingga kini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Obat anti-retrovirai (ARV) yang diberikan pada penderita HIV/AIDS hanya mampu menekan perkembangan virus. Penularan yang cepat tanpa ada pengobatan, menyebabkan angka kesakitan HIV/AIDS terus meningkat.

Diperlukan deteksi dini penemuan kasus penderita HIV/AIDS dalam upaya mengendalikan penyebaran penyakit HIV/AIDS. Mengapa deteksi dini ini begitu penting? Deteksi dini dapat mencegah penderita HIV yang tidak tahu bahwa dirinya terinfeksi untuk tidak menularkan HIV kepada orang lain karena penderita HIV sudah berpotensi untuk menularkan virus HIV kepada orang lain meskipun belum menunjukkan gejala klinis. Selain itu, dengan adanya deteksi dini, penderita HIV/AIDS dapat menjani terapi obat antiretroviral (ARV) sedini mungkin karena pengobatan sejak dini dapat meningkatkan efektivitas pengobatan HIV/AIDS dan meningkatkan harapan hidup penderita.

Di Indonesia dan sebagian besar negara lain, telah diadakan program konseling dan tes HIV sukarela atau VCT (Voluntary Counseling and Testing). Program VCT ini dilakukan secara sukarela dan rahasia. Namun, karena sifatnya sukarela, VCT belum dapat menjaring terlalu luas. Masyarakat belum secara sukarela penuh untuk melakukan VCT karena minimnya pengetahuan, stigma masyarakat, serta perasaan malu dan takut. Hal ini tentu saja diperparah dengan suatu fakta bahwa gejala – gejala penyakit akibat infeksi HIV baru muncul setelah beberapa tahun terinfeksi HIV. Sehingga, para penderita HIV tidak merasa sakit sehingga menambah keengganan mereka untuk melakukan VCT ini.

Ketua Bidang Penanggulangan Penyakit Menular PB IDI, Pandu Riono, penerapan pola VCT yang dijadikan ujung tombak dalam tingkat penemuan kasus penderita HIV di Indonesia belum efektif sebab jangkauan layanan pemeriksaan HIV dengan program VCT masih terbatas. Terlihat dari kesenjangan antara estimasi jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia dengan jumlah orang dengan HIV/AIDS yang menjalani pemeriksaan dan mengakses obat antiretroviral (ARV) gratis dari pemerintah. Diperkirakan terdapat 270 ribu orang terpapar HIV/AIDS di Indonesia. Namun, hanya sekitar 27 ribu atau 10 persen penderita yang bisa ditemukan. Dari jumlah itu, hanya 13 ribu di antaranya yang mendapat pengobatan. Masyarakat berisiko tinggi yang dapat dijangkau dengan program pencegahan yang sudah ada tidak cukup banyak (kurang dari 10 persen), dan terlalu sedikit yang mengakses program VCT yaitu sebanyak 18,1 persen dari pengguna Napza suntik, 14,8 persen pekerja seks,  bahkan hanya sebesar 3,3 persen pelanggan pekerja seks yang mengakses VCT. Dengan mekanisme VCT, provider kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas dan tenaga medis lebih bersifat pasif. Pola VCT ini hanya menghimbau masyarakat secara sukarela untuk memeriksakan diri ke rumah sakit dan bersedia menjalani tes dan konsultasi sehingga penemuan kasus HIV di Indonesia dengan VCT sangat rendah karena stigma dan minimnya pengetahuan menyebabkan banyak orang yang enggan memeriksakan diri.

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Konselor VCT HIV Indonesia (PKVHI), dr. Diah Setia Utami, Sp.KJ, MARS, pada tahun 2010 hanya ada 192.076 orang yang melakukan tes HIV di layanan VCT. Data tersebut jauh dari yang ditargetkan Kemenkes pada tahun 300.000 orang. Padahal, PKHVI telah memiliki lebih dari 2.000 orang yang terlatih untuk menjadi konselor VCT HIV dan sudah tersedia 388 klinik VCT aktif yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Menurut Menkes, dr. Endang R. Sedyaningsih, MPH, Dr.PH, berdasarkan estimasi ODHA (orang dengan HIV/AIDS), jumlah populasi rawan tertular HIV di Indonesia sudah mencapai 6,3 juta orang. Namun dari jumlah tersebut sampai Desember 2010 yang melakukan konseling dan tes sebanyak 535.943 orang dengan hasil HIV positif tercatat 55.848 orang. Berdasarkan data tersebut, cakupan konseling dan tes HIV yang dilakukan pada populasi rawan secara kumulatif di bawah 10 persen. Sehingga dapat disimpulkan bahwa daya jangkau VCT kurang luas sehingga dibutuhkan konsep lain yang lebih baik.

Oleh karena berbagai kekurangan dari VCT tersebut, konferensi AIDS Internasional ke-17 di Mexico menghasilkan suatu usulan untuk mengganti program VCT menjadi PICT (Provider Initiated Counseling and Testing). Program PICT ini memiliki daya jangkau lebih luas dari VCT karena inisiatif tes berasal dari petugas kesehatan sehingga mampu menghindari keterlambatan diagnosis. Peran provider kesehatan dalam PICT lebih efektif karena merupakan penentu pelaksanaan program ini.

Sebagai bukti, menurut Prof. Zubairi Djoerban Sp.PD, KHOM sebagaimana dikutip kaltimpost.com, sebuah penelitian di Los Angeles dan New York mengenai VCT yang dibandingkan dengan Oakland yang menerapkan PICT, menyatakan manfaat PICT yang jauh lebih baik. Kalau pengobatan dengan cara VCT bisa dikatakan inisiatif awal dari klien, maka pada tes rutin inisiatif awal untuk tes HIV dari petugas kesehatan, karena itu juga disebut PICT. Pada periode yang sama, VCT dapat menjaring 1.500 pasein sedangkan PICT dapat menjaring 31.000 pasien. Tes rutin mengidentifikasi HIV positif, 4 kali lebih banyak dan prevalensi yang konsisten.

Bagaimana penerapan PICT ini? Provider kesehatan berperan aktif untuk melihat apakah pasien bersangkutan memiliki gejala-gejala terinfeksi HIV ataupun faktor risiko tinggi terpapar HIV. Setiap pasien yang datang ke dokter dengan indikasi gejala-gejala infeksi HIV dapat segera dideteksi apakah positif atau tidak sehingga deteksi dini HIV dapat lebih efektif. Penderita penyakit yang memiliki kemungkinan menderita HIV/ AIDS adalah penderita penyakit infeksi menular seksual (IMS), tuberculosis, dan beberapa penyakit lainnya. Selain itu, provider kesehatan juga dapat “menjemput bola” dengan mendatangi orang-orang yang memiliki risiko tinggi tertular HIV, seperti WPS, lelaki pengguna WPS, homoseksual, pengguna NAPZA suntik. PICT juga dapat disediakan sebagai salah satu asuhan keperawatan sebelum melahirkan karena meningkatnya Mother to Child Transmission (MTCT) pada beberapa tahun terakhir.

Surat izin (written consent) dari pasien tidak diperlukan untuk tes HIV dalam PICT ini.  Program ini hanya memberikan alternatif “opt-out” form, dimana pasien berhak menolak melakukan tes HIV. Konsultasi sebelum tes (pre-test counseling) juga tidak ada dalam PICT namun hanya ada konsultasi setelah tes (post-test counseling) sehingga keputusan untuk pemeriksaan HIV dapat lebih cepat dilakukan. Walaupun begitu, hak asasi pasien tetap merupakan hal utama dalam melaksanakan program ini. Keputusan untuk melaksanakan tes HIV merupakan hak pasien sehingga pasien tetap dapat menolak dengan menulis surat penolakan tindakan pemeriksaan HIV.

 

Langkah – Langkah Optimalisasi PICT di Indonesia

 

Pada tahun 2010 lalu, Kemenkes menyatakan bahwa konsep PICT akan mulai diimplementasikan secara lebih luas pada tahun 2011 ini. Untuk itu, diperlukan adanya langkah-langkah strategis yang dapat mengoptimalkan penerapan PICT di Indonesia. Menurut penulis, langkah – langkah tersebut adalah: peningkatan political will dari pemerintah, perluasan cakupan/ daerah penyedia layanan PICT, peningkatan pada aspek preventif dan promotif, serta optimalisasi CST (care, support, and treatment).

Political will merupakan suatu komitmen yang berasal dari pemerintah dalam mendukung terlaksananya suatu program dan tercapainya suatu tujuan tertentu. Political will sangat dibutuhkan dalam penanggulangan setiap masalah kesehatan di dunia. Hal ini dapat dilihat salah satunya pada DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) untuk TB dengan poin pertama pada DOTS adalah mengenai komitmen pemerintah. Pada optimalisasi PICT untuk penanggulangan HIV/AIDS, peran pemerintah sangat besar terutama dalam penyediaan dana ataupun pembuatan perangkat serta sistem. Akan tetapi, pada kenyataannya terjadi sebaliknya: peran pemerintah dalam penanggulangan HIV/AIDS saat ini masih sangat lemah. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan alokasi anggaran kesehatan pada APBN yang rendah. Anggaran kesehatan yang ditetapkan untuk tahun 2011 ini memang naik 5 % dari tahun lalu dari 2,1 % atau sekitar 21 triliun menjadi 22,5 triliun. Akan tetapi, sebenarnya nilai APBN tahun ini meningkat, sehingga kenaikan 5 % dari tahun lalu merupakan pengurangan dari presentase APBN Indonesia menjadi hanya 1,87 %. Padahal amanat dari konstitusi dalam UU kesehatan No. 36 tahun 2009, mengharuskan bahwa anggaran kesehatan minimal adalah 5 % dari seluruh total APBN, bukan hanya naik 5 % dari anggaran tahun sebelumnya. Hal ini membuktikan bahwa political will pemerintah Indonesia di bidang kesehatan sangat rendah. Padahal di samping masalah HIV/AIDS, setengah dari goals pada MDG’s merupakan target yang terkait dengan kesehatan.

Pada penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia, anggarannya masih sangat tergantung pada bantuan luar negeri. Bantuan luar negeri tidak boleh menjadi suatu ketergantungan, karena bantuan ini dapat berhenti sewaktu-waktu. Pada tahun 2007, dana yang dibutuhkan KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) sekitar Rp 840 miliar. Dari jumlah tersebut, pemerintah baru dapat memenuhi sekitar 26 %, sedangkan menurut data Bappenas, bantuan luar negeri untuk penanggulangan AIDS lebih dari 50 juta USD atau sekitar 70 % pada waktu itu. Solusi yang dapat dicoba adalah dengan mengimplementasikan SJSN (Sistem Jaminan Sosial Nasional) terutama di bidang kesehatan. SJSN merupakan suatu sistem di mana seluruh masyarakat membayar iuran/ premi rutin secara rutin dan uang yang terkumpul digunakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan sosial masyarakat, termasuk kesehatan.

Layanan VCT/ PICT di negara lain, termasuk USA, dibiayai oleh pemerintah, dimana peran petugas kesehatan tinggi sekali. Di USA, seluruh biaya tes juga disubsidi pemerintah sehingga dapat gratis atau minimal terjangkau, termasuk di dalamnya untuk tes CD4+.  Hal ini tidak terjadi di Indonesia, di mana tes CD4+ dan virus load masih harus ditanggung secara mandiri untuk pasien yang tidak memiliki jaminan kesehatan. Oleh karena itu, angka transmisi HIV/ AIDS di negara tersebut dapat terkontrol.

Selain masalah anggaran untuk PICT, pemerintah dapat berperan dalam pembuatan sistem, perangkat, maupun landasan hukum untuk PICT. Dalam pembuatan sistem dan perangkat, pemerintah membuat suatu guideline atau petunjuk untuk menjalankan PICT di Indonesia serta upgrading/ pelatihan dan sertifikasi untuk para provider kesehatan yang dapat melakukan PICT. Petugas kesehatan perlu diberikan pelatihan khususnya pada aspek konseling yang sangat dibutuhkan pada PICT. Selain itu, pemerintah perlu membuat landasan hukum bagi penerapan PICT dalam bentuk SK Menteri Kesehatan sehingga dapat mendorong berbagai instansi untuk melaksanakan PICT ini di berbagai daerah di Indonesia. Walaupun PICT sudah dilakukan pada beberapa tempat, seperti RSUD Dr.Soetomo di Surabaya, akan tetapi belum dijalankan secara luas. Sosialisasi program PICT oleh pemerintah juga perlu dilakukan dengan baik agar tidak menuai pro kontra dari masyarakat.

PICT ini juga harus ditunjang dengan peningkatan pada aspek promotif dan preventif di masyarakat. Pemerintah, LSM, dan berbagai instansi lain harus bekerja sama dalam melakukan promosi dan prevensi mengenai HIV/ AIDS. Aspek promosi yang sedikit luput dari perhatian adalah mengenai pendidikan seks usia dini di sekolah. Pemerintah, dalam hal ini Mentri Pendidikan, dapat membuat suatu kurikulum mengenai pendidikan seks yang terintegrasi dengan kurikulum sekolah. Kurikulum mengenai pendidikan seks ini tentunya tidak boleh serta merta “menjiplak” kurikulum dari negara lain, akan tetapi harus disesuaikan dengan kondisi social budaya di Indonesia yang menganut adat “Timur”. Untuk aspek promotif dan preventif lainnya sudah banyak dilakukan oleh negara kita, seperti program 100% kondom, substitusi methadon, dan lain sebagainya. Lalu apa kaitannya dengan optimalisasi PICT? Optimalisasi pada aspek promosi dan prevensi dapat membuat masyarakat lebih mawas diri terhadap berbagai faktor risiko, gejala, dan bahaya penyakit HIV/ AIDS. Dengan adanya pengetahuan tersebut, masyarakat akan lebih tergerak untuk melakukan PICT.

Selanjutnya, yang terakhir adalah Care Support and Treatment (CST) di Indonesia masih terbatas pada pengadaan obat-obatan saja. Berbeda dengan Thailand, dimana setiap ada kasus HIV positif di anggota, akan diberikan pelatihan di keluarga tersebut, dan selanjutnya diberikan modal kerja senilai 8 juta rupiah, sehingga akan membantu penghasilan untuk anggota yang disable (penderita HIV/AIDS) tadi. Sementara, di Indonesia meski obat antiretroviral (ARV) gratis, namun akses mendapatkannya masih sulit, belum lagi tes CD4+ dan virus load yang masih harus ditanggung secara mandiri. Lalu apa hubungannya CST dengan optimalisasi CST? CST yang baik, terutama pada aspek support/ dukungan, dapat membentuk suatu paradigma baru di kalangan masyarakat terkait penderita HIV/ AIDS. Paradigma atau stigma yang baik tersebut, dibentuk oleh adanya suatu contoh bahwa penderita HIV/ AIDS juga memiliki kualitas hidup yang baik, dapat berinteraksi sosial dengan lingkungannya, bahkan masih bisa bekerja dan berkarya. Paradigma tersebut akan memunculkan suatu pemikiran bahwa penderita HIV/ AIDS tidak selamanya buruk, sehingga keengganan untuk melakukan PICT dapat berkurang.

Bedasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa optimalisasi PICT di Indonesia merupakan suatu solusi kunci bagi permasalahan HIV/ AIDS di Indonesia. Optimalisasi PICT harus mendapatkan perhatiana dari berbagai pihak terutama pemerintah dan kalangan swasta. Optimalisasi PICT di Indonesia juga sangat terkait dengan bidang lain yaitu peningkatan political will dari pemerintah, perluasan cakupan/ daerah penyedia layanan PICT, peningkatan pada aspek preventif dan promotif, serta optimalisasi CST (care, support, and treatment). PICT yang optimal, dapat menjadikan upaya deteksi dini HIV/ AIDS di Indonesia menjadi lebih baik. Deteksi dini dapat mencegah penderita HIV yang tidak tahu bahwa dirinya terinfeksi untuk tidak menularkan HIV kepada orang lain. Selain itu, dengan adanya deteksi dini, penderita HIV/AIDS dapat menjani terapi obat antiretroviral (ARV) sedini mungkin karena pengobatan sejak dini dapat meningkatkan efektivitas pengobatan HIV/AIDS dan meningkatkan harapan hidup penderita.

Tak dapat dipungkiri lagi, usaha – usaha yang penulis kemukakan melalui esai ini harus melibatkan kerja keras dari seluruh komponen masyarakat Indonesia. Mari kita bersama-sama mendukung gerakan memberantas HIV/ AIDS dengan optimalisasi PICT di Indonesia!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

DeFranco, Locksley, Robertson. 1999. New Science Press. http://www.new-science-press.com/info/ilustration_files/nsp-immunity-10-6-10_16.jpg [27 Maret 2011]

Departemen Kesehatan (Depkes). 2008. P2M & PL & LITBANGKES. Depkes. Jakarta.http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=1954&Itemid=2 [2 maret 2011]

Depkes RI. 2006. Pedoman Pelayanan Konseling dan Testing HIV/AIDS secara Sukarela. Jakarta: Depkes RI

Ginung, I.K., Sumantera, I.G.M., Sawitri, A.A.S., Wirawan, D. N., Kharbiarti, K., Angela, R. 2005. Buku Pegangan Konselor HIV. Edisi 2. Macfarlane Burnet Institute for Medical Research and Public Health Limited.

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional. 2002. Ancaman HIV/AIDS di Indonesia Semakin Nyata, Perlu Penanggulangan Lebih Nyata. KPA. Jakarta.

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA). 2008. Statistik Kasus Oktober s/d Desember 2008. KPA. Jakarta.

MedanBisnis. 2011.Dirjen Kemenkes Upayakan Promotif dan Preventif HIV/AIDS Lebih Gencar

Media Indonesia. 30 Agustus 2006. Cegah HIV dengan Strategi Baru. Media Indonesia. Hlm 9.

National AIDS Comission. 2006. Country Report on the Follow-up to the Declaration of Commitment on HIV/AIDS (UNGASS). http://data.unaids.org/pub/Report/2006/2006_country_progress_report_indonesia_en_pdf  [27 Maret 2011]

Republika. 2011. Menkes Kritik Kinerja Perhimpunan Konselor HIV

Soemarsono. 1989. Patogenesis, Gejala Klinis dan Pengobatan Infeksi HIV/AIDS. Di dalam Petunjuk Untuk Petugas Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Soewandojo, E. 2008. Infeksi HIV/AIDS. Di dalam Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF Ilmu Penyakit Dalam. Surabaya : RSU Dr.Soetomo. halaman 348.

Subakti. 2008. VCT Kurang Efektif, Ganti dengan PICT. http://satudunia.oneworld.net/?q=node/2780 [23 Maret 2011]

 

Texas Departement of Health (TDH). 1997. New Guidelines Allow for HIV Testing During Routine STD Exams. TDH 57 (9):1-4. http://www.dshs.state.tx.us/idcu/health/dpn/issues/dpn57n09.pdf [10 Maret 2011]

UNAIDS. 2004. UNAIDS/WHO Policy Statement on HIV Testing. http://data.unaids.org/una-docs/hivtestingpolicy_en.pdf  [12 Maret 2011]

UNAIDS. 2007. Global HIV Prevalence has Levelled Off; AIDS is among the Leading Causes of Death Globally and Remains the Primary Cause of Death in Africa. http://data.unaids.org/pub/EPISlides/2007/07119_epi_pressrelease_en.pdf  [2 Maret 2011]

TEMPO Interaktif . 2008. Program pemerintah Voluntary Counselling Test.

World Health Organization (WHO). 2003. HIV/AIDS in Asia and the Pacific Region 2003: Natural History of HIV Infection. http://www.searo.who.int/LinkFiles/HIV-AIDS_in_Asia_and_the_Pacific_Region_2003_anxl.pdf  [27 Maret 2011]

Metode “Spiritual Parenting” = Solusi untuk Peningkatan Moralitas Anak Bangsa

Pada tahun 2006 di Preston, Inggris, telah terjadi satu peristiwa yang mengejutkan seluruh dunia. Robert Thompson dan Jon Venables, dua bocah yang masih berusia sebelas tahun, telah menculik, menyiksa, dan membunuh seorang bocah lain berumur dua tahun, James Bulger. Thompson maupun Venables menghantamkan batu bata, batu,kayu dan potongan besi ke arah kepala James. Mata bocah balita itu pun disiram cat dan akhirnya terbunuh. Mayat Bulger ditemukan dua hari kemudian dan kedua pelaku pembunuhan itu ditangkap di rumahnya. Thompson dan Venables akhirnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup di penjara khusus anak-anak atas tidak kriminalitas yang telah mereka lakukan.

Tak hanya di Inggris, di negeri kita, Indonesia, juga banyak terdapat fakta mengejutkan terkait kejahatan ataupun tindakan amoral yang dilakukan oleh anak-anak. Masih ingat kisah tentang Sandi? Sandi adalah seorang balita dari Malang yang sejak umur 1,5 tahun sudah kecanduan merokok dan fasih mengeluarkan kata-kata “kotor”.

Selain kisah tentang Sandi, ada juga kisah dari Kediri, Jawa Timur. Kasus kejahatan yang melibatkan anak di bawah umur 18 tahun yang ditangani Balai Pemasyarakatan Kediri, Jawa Timur terus menunjukkan peningkatan. Selama tahun 2007, Bapas Kediri telah menerima 291 kasus kejahatan. Angka itu lebih tinggi dibandingkan pada tahun 2006 yang hanya 248 kasus kejahatan Menurut Kepala Bapas Kediri, kasus kejahatan anak-anak itu didominasi oleh kasus pencurian, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, pencabulan, dan pembunuhan.

Berbagai peristiwa tersebut hanyalah sebagian kecil dari banyaknya kejahatan ataupun tindakan amoral yang dilakukan oleh anak-anak yang terjadi di seluruh dunia yang juga melanda negeri kita, Indonesia. Setelah ditelusuri, ternyata terdapat kesamaan dari berbagai peristiwa tersebut. Menurut Kepala Bapas Kediri, anak-anak yang melakukan tindak kejahatan tersebut berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah yang kurang mendapatkan perhatian dari orangtua. Begitupun dengan Robert Thompson dan Jon Venables. Kedua anak tersebut ternyata berasal dari dua keluarga yang broken home. Berdasarkan data dan fakta tersebut, penulis akan menganalisis mengenai hubungan antara moralitas yang dimiliki oleh seorang anak dengan metode asuhan orang tuanya.

Orangtua dan Anak, Ibarat Petani dan Tanamannya

Pernahkah Anda mendengar peribahasa yang tertulis pada subjudul di atas?Orangtua dan anak, ibarat petani dan tanamannya. Baik buruknya tanaman, sangat ditentukan oleh perlakuan si petani. Jika ia memilih dan menyiapkan ladang subur untuk benihnya, lalu senantiasa menyiraminya dengan air yang bersih, ditambah dengan perawatan yang teratur, niscaya tanamannya pun akan tumbuh subur. Sebaliknya, jika petani memilih dan menyiapkan ladang gersang untuk bibitnya, menanamnya pun asal-asalan, rumput dan gulma tak pernah disiangi, air pun mengalir kadang-kadang, maka tanaman pun akan tumbuh layu bahkan mati.

Perkembangan penalaran moral anak menurut ahli psikologi dunia, Hurlock dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu pembawaan (heredity) dan faktor lingkungan. Faktor pembawaan terkait dengan perkembangan kecerdasan anak dengan berubahnya kemampuan dalam menangkap dan mengerti terhadap suatu informasi, yang membawa seorang anak bergerak ke tingkat perkembangan penalaran moral yang lebih tinggi. Sedangkan faktor lingkungan meliputi lingkungan keluarga, yaitu orang tua yang merupakan pendidikan awal bagi anak dalam penanaman nilai moral, lingkungan sebaya yaitu interaksi dengan teman sebaya, dan juga lingkungan sekolah.

Selain itu, berdasarkan literatur dari agama Islam, Nabi Muhammad pernah bersabda: “Tidaklah seorang anak yang lahir itu kecuali dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi (penyembah api).” (Hadits Riwayat Muslim).

Berdasarkan kutipan dari Hurlock dan Nabi Muhammad, maka peribahasa orang tua dan anak yang ibarat petani dan tanamannya merupakan hal yang sangat relevan. Hal ini berarti aspek moralitas yang dimiliki oleh seorang anak sangat bergantung dari apa yang diberikan oleh orang tuanya. Sehingga, apabila ada seorang anak melakukan tindak kejahatan ataupun tindakan amoral, dapat dikatakan bahwa itu dikarenakan oleh salahnya asuhan yang diberikan oleh kedua orang tuanya.

Sifat-sifat dasar dan moralitas akan berkembang sesuai dengan lingkungan pendidikan yang dialami anak. Menurut psikolog Wuri Wuryandani, pembentukan kepribadian tidak bisa diserahkan kepada sekolah atau lembaga pendidikan lainnya di luar rumah. Pembentukan kepribadian paling dini dan paling berpengaruh untuk seorang anak justru dimulai dari lingkungan paling kecil dan sederhana, yaitu lingkungan keluarga dalam rumah tangga.

Pada era ini, pola asuh yang banyak digunakan di negri ini adalah pola asuh permisif dan otoritatif. Menurut Maimunah Hasan, pada bukunya “Pendidikan Anak Usia Dini”, pola asuh permisif adalah jenis pola mengasuh anak yang tidak acuh terhadap anak. Sehingga, apapun yang dilakukan oleh anak, orangtua akan memperbolehkannya, walaupun tindakan yang dilakukan anak negatif. Selain pola asuh permisif, ada juga pola asuh otoriter. Pola asuh otoriter adalah pola pengasuhan anak yang bersifat keras dan kaku dimana orang tua akan membuat berbagai aturan yang “saklek” atau harus dipatuhi oleh anak-anaknya tanpa memperhatikan perasaan sang anak. Kedua pola asuhan tersebut, menurut Dwi Siswoyo (2005), akan menyebabkan pengaruh buruk terhadap kesadaran moral atau spiritual anak disamping kecerdasan emosionalnya.

Kalau kita perhatikan kembali filosofi peribahasa atau perumpamaan “orangtua dan anak, ibarat petani dan tanamannya”, maka kita juga harus menyadari bahwa moralitas yang dimiliki oleh seorang anak ketika kecil merupakan cerminan moralitas anak tersebut ketika dewasa kelak. Apabila sejak kecil sudah terbiasa mencuri buah mangga dari pohon tetangganya, mungkin di masa depan dia akan terbiasa melakukan tindakan korupsi senilai milyaran rupiah.

Penerapan Metode Spiritual Parenting kepada Anak Sejak Dini

Apakah Spiritual Parenting itu? Apa keunggulan metode spiritual parenting dengan metode lainnya? Menurut Robert Coles, pada bukunya “Menumbuhkan Kecerdasan Moral pada Anak”, spiritual parenting adalah pola asuh yang menempatkan Tuhan pada urutan tertinggi, dalam sikap dan perilaku yang diterapkan oleh orang tua dalam berinteraksi dengan anak, meliputi cara orang tua memberikan perhatian serta aturan-aturan yang dibuat orang tua terhadap anaknya dan juga bagaimana mengakrabkan konsep Tuhan kepada anak sejak usia dini.

Mimi Doe, dalam buku “10 prinsip spiritual parenting”, penerapan spiritual parentingtidak jauh berbeda dengan pendidikan agama yang diterapkan selama ini. Bedanya, metode baru ini tidak “mencekoki” anak dengan doktrin-doktrin ketuhanan, akan tetapi merangsang anak untuk berpikir tentang Tuhan. Bagaimana caranya berpikir atau melogikakan Tuhan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus memahami kisah pencarian Tuhan dari Ibrahim.

Inilah salah satu kisah yang terdapat pada kitab suci agama Islam, Al Qur’an: Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang dan berkata, ”Inikah Tuhanku?”. Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, ”Aku tidak suka kepada yang terbenam”. Kemudian ketika dia melihat matahari terbit dia berkata, ”Inikah Tuhanku? Yang ini lebih besar.” Tetapi, ketika matahari terbenam, dia berkata, ”Wahai kaumku! Sungguh aku berlepas diri apa yang kamu persekutukan!”

Kisah dari Nabi Ibrahim di atas, menunjukkan bahwa untuk memahami eksistensi dari Tuhan, perlu adanya suatu proses berpikir. Apabila anak dapat berpikir, untuk memahami eksistensi Tuhan, maka anak itu akan lebih menerima Tuhan dengan segala peraturan dan norma-Nya. Berpikir mengenai Tuhan dan segala peraturannya, merupakan inti dari metode spiritual parenting.

Bagaimana contoh penerapan spiritual parenting ini? Menurut Irianto, terdapat empat prinsip mendasar pada metode spiritual parenting. Pertama, membiarkan kreativitas anak-anak untuk bertanya, terutama pertanyaan yang fundamental (fundamental question), misalnya menyangkut alam raya, keberadaan Tuhan, cinta, keadilan, dan lain-lain. Pertanyaan sekecil apapun yang dilontarkan mereka, tetap memerlukan jawaban yang bijaksana sehingga bisa merangsang pertanyaan selanjutnya yang lebih fundamental.

Prinsip yang kedua adalah mendengarkan mereka dengan penuh cinta, sehingga mereka bebas untuk mengekspresikan perasaan, khayalan dan perspektifnya. Anak-anak akan lebih merasa bebas untuk membagi pemikiran dan pengalaman hidupnya hanya ketika mereka berada dalam lingkungan yang menerimanya. Jadilah orang tua yang bisa dipercaya anak-anak untuk mengungkapkan perasaannya. Sebab pada dasarnya, anak-anak memiliki perasaan mendalam seperti layaknya orang dewasa, tetapi mereka belum mempunyai perbendaharaan kata yang cukup untuk mengungkapnya.

Kedua prinsip spiritual parenting tersebut dilakukan melalui dialog antara orangtua dengan anak. Bagaimana dialog yang baik antara anak dan orang tuanya? Sekali lagi kita akan belajar dari kisahnya Ibrahim, kali ini dengan putranya, Ismail. Ketika menerima perintah dari Tuhan untuk menyembelih Ismail, Ibrahim tidak langsung serta merta melaksanakan perintah tersebut. Sebelumnya, dia menanyakannya kepada Ismail terlebih dahulu. Sesudah Ismail menyatakan persetujuannya untuk disembelih, barulah Ibrahim melaksanakan perintah itu. Kisah tersebut menunjukkan bahwa seorang anak harus dilibatkan sejak dini dalam berpikir dan pengambilan keputusan.

Ketiga, memberikan suatu makna pada aktivitas keagamaan yang bisa disaksikan, dilakukan, dan dialami secara langsung oleh anak-anak. Dalam Islam misalnya ada pelajaran shalat jenazah. Antarkan anak-anak untuk memahami kehidupan dan kematian ini dengan cara yang bijaksana. Sehingga kematian bisa menjadi spirit untuk menatap kehidupan selanjutnya, bukan menjadi sesuatu yang menakutkan. Dari sinilah diharapkan, potensi spiritualitas yang dimiliki anak-anak akan bersinar dan selanjutnya akan melahirkan kesadaran diri (self-awareness) pada diri mereka sebagai kriteria tertinggi dari kecerdasan spiritual (spiritual quotient/ SQ).

Keempat, mencoba menghadirkan kehadiran Tuhan pada anak-anak pada saat berdoa, beribadah, ataupun saat melakukan aktivitas yang lainnya. Pada awalnya anak-anak merasa Tuhan itu “jauh”, tetapi dengan latihan yang disertai ketekunan, maka seorang anak pada akhirnya akan merasakan bahwa dia memang membutuhkan Tuhan sebagai sumber kekuatan, sehingga akan tercipta relasi spiritual antara dirinya dan Tuhan. Saat itulah, dia akan terhindar dari segala kegelisahan, keputusasaan, dan krisis diri yang lain, karena merasakan Tuhan berada sangat dekat, melindunginya, dan memberinya energi kehidupan.

Selain keempat prinsip tersebut, metode spiritual parenting juga mengharuskan orang tua untuk menunjukkan suatu yang sangat penting: keteladanan. Keteladanan berarti melakukan sesuatu yang dapat menjadi contoh atau inspirasi bagi seorang anak. Apabila orang tua mengajarkan kepada anak untuk tidak mencuri dari orang lain, maka orang tua pun tidak boleh mencuri. Berdasarkan pemaparan tersebut, spiritual parenting ini mengharuskan orang tua untuk menjadi pribadi yang berketuhanan dan memiliki moralitas yang tinggi. David J. Lieberman mengatakan bahwa agar orang lain mau berubah menjadi lebih baik, maka kita harus merubah diri kita sendiri. Pendidikan moralitas melalui spiritual parenting tidak hanya melalui dialog dan praktik, tetapi juga melalui keteladanan.

Melalui pemaparan di atas, spiritual parenting bisa menjadi solusi terhadap moralitas anak bangsa yang semakin menurun. Untuk itu, perlu kontribusi dari kita semua untuk mensosialisasikan dan merealisasikannya. Go Spiritual Parenting!

– Juara I lomba Essay se-Surabaya oleh SWAYANAKA- 

Daftar Referensi

Coles, Robert. 2000. Menumbuhkan kecerdasan moral pada anak. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Lieberman, David J. 2005. Agar Siapa Saja Mau Berubah untuk Anda. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

Doe, Mimi dan Marsha Walch. 10 Prinsip Spiritual Parenting. 2001. Jakarta: Mizan.

Hasan, Maimunah. 2009. Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Diva Press

Hidayat, Otib Satibi. 2000. Metode Pengembangan Moral dan Nilai-Nilai Agama. Jakarta: Universitas Terbuka.

Hurlock, Elizabeth. 1998. Perkembangan Anak Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Kompas. 2010. Kasihan, Balita Dibiarkan Mencandu Rokok.http://kesehatan.kompas.com/read/2010/04/04/09350158/Kasihan.Balita.Dibiarkan.Mencandu.Rokok

Media Indonesia. 2006. Pembunuhan Termuda di Inggris. Jakarta: Harian Media Indonesia.

Siswoyo, Dwi, dkk. 2005. Metode Pengembangan Moral Anak Prasekolah. Yogyakarta: FIP UNY.

Implementasi Nilai-Nilai Kepahlawan Masa Kini

Pada setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati hari pahlawan yang sarat akan nilai sejarah. Ketika tanggal tersebut pada 63 tahun silam, para pejuang kita bertempur mati-matian untuk melawan Belanda yang membonceng tentara sekutu di kota Surabaya. Saat itu kita hanya mempunyai beberapa pucuk senjata api, selebihnya para pejuang menggunakan senjata khas pejuang bangsa Indonesia saat itu, bambu runcing. Namun, para pejuang kita tak pernah gentar untuk melawan penjajah. Kita akan selalu mengingat tokoh yang terkenal pada saat perjuangan itu yakni Bung Tomo yang mampu menyalakan semangat perjuangan rakyat lewat siaran-siaran melalui radio atau Ruslan Abdul Gani yang meninggal beberapa waktu lalu, adalah salah seorang pelaku sejarah waktu itu.

Setiap tahun kita mengenang jasa para pahlawan, namun begitu terasa mutu peringatan itu menurun dari tahun ke tahun. Kita sudah makin tidak menghayati makna hari pahlawan! Peringatan yang kita lakukan sekarang cenderung bersifat seremonial belaka. Seolah-olah pahlawan rasanya tinggal menjadi kerangka sejarah yang segera dilupakan dan dibuang ke dalam selokan lahat yang gelap. Padahal ruh pahlawan harus senantiasa hidup sebagai pelecut kita untuk bangkit dari keterpurukan multidimensi saat ini. Dengan menghayati kepahlawanan para pejuang bangsa, kita dapat memperoleh nilai-nilai kepribadian berharga yang diperlukan bangsa kita saat ini. Nilai-nilai tersebut antara lain ialah pengorbanan, semangat untuk berprestasi, serta ketulusan dalam memberikan sesuatu dan sebagainya.

Tugas kita saat ini adalah memberi makna baru kepahlawanan dan mengisi kemerdekaan sesuai dengan perkembangan zaman. Saat memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, rakyat telah mengorbankan nyawanya. Kita wajib menundukkan kepala untuk mengenang jasa-jasa mereka. Karena itulah kita merayakan Hari Pahlawan setiap 10 November. Akan tetapi, kepahlawanan tidak hanya berhenti di sana. Dalam mengisi kemerdekaan pun kita saat ini dituntut untuk menjadi pahlawan. Dengan mengamalkan nilai-nilai kepahlawanan dalam setiap aktivitas yang kita lakukan , seharusnya kita bisa menjadi seorang pahlawan. Hal itu merupakan kewajiban bagi kita, agar apa yang diperjuangkan oleh pahlawan bangsa pada saat lalu tidak menjadi suatu hal yang sia-sia.
Seorang ilmuwan pun bisa menjadi pahlawan dalam bidangnya berkat penemuannya yang dapat menyejahterahkan orang banyak. Seorang petugas pemadam kebakaran yang tewas saat berjuang mematikan api yang sedang membakar rumah penduduk adalah pahlawan juga. Mahasiswa yang selalu berjuang keras untuk memperoleh prestasi yang terbaik dalam bidang akademis maupun organisasi juga merupakan pahlawan.

Setiap orang harus berjuang untuk menjadi pahlawan. Karena itu, walaupun hari pahlawan hanya terjadi pada stiap tanggal 10 November, tetapi kita seharusnya bisa mengamalkan setiap nilai-nilai kepahlawanan setiap hari dalam aktivitas yang kita lakukan. Setiap hari kita berjuang paling tidak menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri. Berusaha untuk menjadi pribadi yang tangguh dan pantang menyerah dalam setiap amanah yang dibebankan kepada kita. Minimal itu!

THE ESSENCES OF LEADERSHIP

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat selalu membutuhkan adanya pemimpin. Di dalam kehidupan rumah tangga diperlukan adanya pemimpin atau kepala keluarga, begitu pula halnya di masjid sehingga shalat berjamaah bisa dilaksanakan dengan adanya orang yang bertindak sebagai imam, bahkan dalam kehidupan bernegara keberadaan presiden dan raja merupakan syarat mutlak bagi tegaknya kedaulatan suatu negara. Ini semua menunjukkan betapa penting kedudukan pemimpin dalam suatu masyarakat, baik dalam skala yang kecil apalagi skala yang besar.
Di dalam agama Islam, pemimpin kadangkala disebut sebagai imam. Dalam shalat berjamaah, imam berarti orang yang didepan. Secara harfiyah, kata imam artinya menuju, menumpu dan meneladani. Ini berarti seorang imam atau pemimpin harus selalu didepan guna memberi keteladanan atau kepeloporan dalam segala bentuk kebaikan. Bagitu pentingnya kedudukan pemimoin dalam Islam, maka siapa saja yang menjadi pemimpin tidak boleh dan jangan sampai menyalahgunakan kepemimpinannya untuk hal-hal yang tidak benar. Karena itu, para pemimpin dan orang-orang yang dipimpin harus memahami hakikat kepemimpinan dalam pandangan Islam.
Ketika seseorang diangkat atau ditunjuk untuk memimpin suatu lembaga atau institusi, maka ia sebenarnya mengemban tanggung jawab yang besar sebagai seorang pemimpin yang harus mampu mempertanggungjawabkannya. Bukan hanya dihadapan manusia tapi juga dihadapan Allah Swt. Oleh karena itu, jabatan dalam semua level atau tingkatan bukanlah suatu keistimewaan sehingga seorang pemimpin atau pejabat tidak boleh merasa menjadi manusia yang istimewa sehingga ia merasa harus diistimewakan dan ia sangat marah bila orang lain tidak mengistimewakan dirinya.
Menjadi pemimpin atau pejabat bukanlah untuk menikmati kemewahan atau kesenangan hidup dengan berbagai fasilitas duniawi yang menyenangkan, tapi justru ia harus mau berkorban dan menunjukkan pengorbanan, apalagi ketika masyarakat yang dipimpinnya berada dalam kondisi sulit dan sangat sulit.
Para pemimpin mendapat tanggung jawab yang besar untuk menghadapi dan mengatasi berbagai persoalan yang menghantui masyarakat yang dipimpinnya untuk Selanjutnya mengarahkan kehidupan masyarakat untuk bisa menjalani kehidupan yang baik dan benar serta mencapai kemajuan dan kesejahteraan. Untuk itu, para pemimpin dituntut bekerja keras dengan penuh kesungguhan dan optimisme.
Pemimpin adalah pelayan bagi orang yang dipimpinnya, karena itu menjadi pemimpin atau pejabat berarti mendapatkan kewenangan yang besar untuk bisa melayani masyarakat dengan pelayanan yang lebih baik dari pemimpin sebelumnya, Rasulullah Saw bersabda: Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka (HR. Abu Na’im)
Dalam segala bentuk kebaikan, seorang pemimpin seharusnya menjadi teladan dan pelopor, bukan malah menjadi pengekor yang tidak memiliki sikap terhadap nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Ketika seorang pemimpin menyerukan kejujuran kepada rakyat yang dipimpinnya, maka ia telah menunjukkan kejujuran itu. Ketika ia menyerukan hidup sederhana dalam soal materi, maka ia tunjukkan kesederhanaan bukan malah kemewahan. Masyarakat sangat menuntut adanya pemimpin yang bisa menjadi pelopor dan teladan dalam kebaikan dan kebenaran.
Dari penjelasan di atas, kita bisa menyadari betapa penting kedudukan pemimpin bagi suatu masyarakat, karenanya jangan sampai kita salah memilih pemimpin, baik dalam tingkatan yang paling rendah seperti kepala rumah tanggai, ketua RT, pengurus masjid, lurah dan camat apalagi sampai tingkat tinggi seperti anggota parlemen, bupati atau walikota, gubernur, menteri dan presiden. Karena itu, orang-orang yang sudah terbukti tidak mampu memimpin, menyalahgunakan kepemimpinan untuk misi yang tidak benar dan orang-orang yang kita ragukan untuk bisa memimpin dengan baik dan kearah kebaikan, tidak layak untuk kita percayakan menjadi pemimpin

Pengumuman “euy”!

Teman2 dan seluruh pengunjung blog saya…. Kebetulan, ane blogger baru nih, posting-an yang ane publish hari ini, merupakan artikel2 lama yang ane buat… Artikelnya banyak salah, bahasa juga “acak adut”, ancur deh (dibandingkan dengan artikel2 ane sekarang),, yah, semoga bisa bermanfaat (:

Sekarang, saatnya berkarya, saatnya menulis, saatnya menginspirasi..bismillah!

Fenomena Ponari: Refleksi Dunia Kesehatan Indonesia Saat Ini

 

Sudah dalam beberapa bulan belakangan ini, ada seorang ”dukun tiban” cilik dari Jombang yang nama nya sedang naik daun. Dia adalah Muhammad Ponari, 10 tahun, dari Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang. Dia dipercaya oleh banyak orang dapat menyembuhkan berbagai penyakit hanya dengan cara menyelupkan ”batu bertuah” yang dia miliki ke dalam air yang kemudian diminum pasien yang datang berobat. Batu bertuah tersebut, konon didapat Ponari ketika dirinya tersambar petir dan batu tersebut muncul setelahnya begitu saja. Hingga saat ini, cukup banyak pasien Ponari yang sembuh, yang katanya, diakibatkan kemagisan batu tersebut.

Pada awal masa kepopulerannya, Ponari mampu menarik banyak minat warga untuk datang berobat. Ketika itu kurang lebih puluhan ribu pasien datang tiap harinya untuk berobat. Dan akibatnya, karena terlalu banyak orang yang mengantri, banyak kejadian buruk yang terjadi. Karena sebagian besar orang yang mengantri adalah orang-orang yang sakit, karena mengantri terlalu lama dan berdesak-desakan, maka banyak orang yang justru penyakitnya bertambah parah bahkan ada beberapa orang yang meninggal. Peristiwa ini tentu saja langsung memancing reaksi dari berbagai pihak. Akhirnya untuk beberapa saat, praktik Ponari saat itu akhirnya sempat ditutup. Tetapi karena desakan banyak orang yang ingin berobat ke Ponari, praktik Ponari akhirnya dibuka lagi dengan mekanisme pengaturan pasien yang lebih baik untuk mengantisipasi jumlah pasien yang terlalu membludak. Hal ini terjadi hingga saat ini.

Di sisi lainnya, saat ini kondisi bidang kesehatan di Indonesia berada dalam fase yang kurang baik. Menurut Menkes, Siti Fadillah Supari, beberapa waktu lalu, saat ini Indonesia memiliki derajat kesehatan yang buruk. Hal ini dapat dilihat dari indeks kesehatan Indonesia yang hanya menempati urutan 112 dari 175 negara. Hal ini disebabkan oleh tidak meratanya kondisi kesehatan di berbagai daerah, dimana ada daerah yang memang sudah sehat, tetapi di sisi lain juga masih ada yang tidak sehat.
Selain itu, kualitas kesehatan penduduk juga masih rendah, terutama dari kalangan miskin. Berbagai jenis penyakit masih menjangkiti masyarakat Indonesia. kuantitas dan kualitas lembaga pelayanan kesehatan yang tidak merata serta tak terjangkaunya biaya pengobatan olah kalangan masyarakat tidak mampu. Sikap masyarakat Indonesia yang kurang mendukung perilaku hidup sehat dan bersih juga menjadi penyebab masih rendahnya derajat kesehatan nasional.

Diterapkannya desentralisasi program dari pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota sering tidak sinkron. Kabupaten seperti terlepas dan tidak ada hubungan hirarki dengan pemerintah provinsi. Akibatnya, informasi kesehatan yang terjadi di kabupaten/kota sering tidak disampaikan ke provinsi dan pusat. Selain itu, program Jamkesmas, yang digalakkan pemerintah, dalam kenyataannya ternyata terbentur oleh banyak kendala. Mulai dari pendataan, pendistribusian, maupun mekanisme Jamkesmas ini ternyata masih tetap menyulitkan masyarakat miskin.

“Fenomena Ponari” sebetulnya selaras dengan kondisi kesehatan di Indonesia saat ini. Pelayanan kesehatan yang kurang maksimal yang didapatkan oleh masyarakat mendorong masyarakat untuk mencari jalan alternatif yang mereka kira dapat menjadi solusi bagi masalah kesehatan yang mereka hadapi. Mereka bahkan memilih Ponari sebagai salah satu solusi walaupun yang mereka lakukan tersebut adalah hal yang tak logis dan tak aman. Hal ini harus jadi renungan dan bahan introspeksi bagi kita semua, terutama orang-orang yang berkecimpung dalam dunia kesehatan untuk menemukan solusi yang tepat

Apakah ada keutamaan berpuasa di bulan Rajab??

Assalamu’alaikum Wr..Wb..

Kmarin Rabu tanggal 24 Juni 2009 kita memasuki bulan Rajab nih teman2..ga kerasa ya tinggal lewat bulan Rajab trus Syaban, kita akhirnya sampai ke bulan Ramadhan..Bulan Ramadhan sudah dekat!!

Btw,,beberapa waktu yang lalu ada temen yang bilang kalau kita mesti banyak berpuasa di bulan Rajab dikarenakan berpuasa pada bulan ini memliki keutamaan tertentu..Bahkan katanya ada hadits yang mengatakan bahwa dengan berpuasa di bulan Rajab dosa kita seumur hidup bisa terampuni!!

Tetapi sebagai seorang akademisi yang kritis dan obyektif (halah…), aq mencoba untuk searching2 informasi mengenai puasa di bulan Rajab itu..dan inilah ringkasan hasil dari searching2 itu:

Pada dasarnya berpuasa di seluruh bulan dalam setahun disyari’atkan kecuali ramadhan atau pada waktu-waktu yang dilarang untuk berpuasa, seperti : dua hari raya, hari-hari tasyriq, hari jum’at. Sedangkan berpuasa di bulan ramadhan adalah diwajibkan.

Seseorang diperbolehkan berpuasa senin kamis, tiga hari dalam sebulan, atau puasa Daud pada bulan manapun dalam setahun termasuk didalamnya bulan rajab. Hal demikian berdasarkan keumuman dalil-dalil yang menerangkan tentang puasa-puasa sunnah, diantaranya :

1. Diriwayatkan dari Abu Hurairoh bahwa Nabi saw sering berpuasa pada hari senin dan kamis.” (HR. Ahmad dengan sanad shahih)

2. Dari Abu Dzar al Ghifari berkata bahwa Rasulullah saw pernah memerintahkan kami agar berpuasa sebanyak tiga hari pada setiap bulan, yaitu apa yang dinamakan dengan hari putih; tanggal ketiga belas, keempat belas dan kelima belas.’ Nabi saw bersabda,”Itu semua seperti berpuasa sepanjang waktu.” (HR. An Nasai dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

3. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amar bahwa Rasulullah saw telah bersabda,”Puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Daud dan shalat yang paling disukai Allah adalah shalat Daud. Dia tidur sepanjang malam, bangun sepertiganya, lalu tidur seperenamnya dan ia berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari.” (HR. Ahmad)

Hal ini seperti yang dikatakan oleh Imam Nawawi bahwa tidak ada pelarangan tentang berpuasa di bulan rajab dan juga tidak ada penganjurannya karena bulan rajabnya itu sendiri akan tetapi berpuasa pada dasarnya disunnahkan. Didalam sunnan Abu Daud bahwa Rasulullah saw menganjurkan berpuasa di bulan-bulan haram dan rajab adalah salah satunya. (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi juz VIII hal 56)

Dan tidak ddiapat riwayat shahih yang menjelaskan tentang berpuasa rajab dikarenakan keutamaan yang ada didalam bulan itu. Diantara hadits-hadits itu adalah :

1. Diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudriy bahwa Rasulullah saw bersabda,”Rajab adalah bulan Allah, sya’ban adalah bulanku dan ramadhan adalah bulan umatku. Barangsiapa yang berpuasa rajab dengan keimanan dan penuh harap maka wajib baginya keredhoan Allah yang besar, akan ditempatkan di firdaus yang tertinggi. Barangsiapa yang berpuasa dua hari dari bulan rajab maka baginya pahala yang berlipat dan setiap takarannya sama dengan berat gunung-gunung di dunia dan barangsiapa berpuasa tiga hari dari bulan rajab maka Allah akan menjadikan puasa itu sebuah parit yang lebarnya satu tahun perjalanan diantara dirinya dengan neraka…” Ibnul Jauzi mengatakan bahwa hadits ini maudhu’ (palsu).

2. Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang berpuasa tiga hari dari bulan rajab maka Allah tetapkan baginya puasa sebulan. Barangsiapa berpuasa tujuh hari dari bulan rajab maka Allah tutupkan baginya tujuh pintu-pintu neraka. Barangsiapa yang berpuasa delapan hari dari bulan rajab maka Allah bukakan baginya delapan pintu-pintu surga dan barangsiapa yang berpuasa setengah bulan rajab maka Allah tetapkan baginya keredhoan-Nya dan barangsiapa yang ditetapkan baginya keredhoan-Nya maka Dia tidak akan mengadzabnya. Dan barangsiapa yang berpuasa selama bulan rajab maka Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah.” Ibnul Jauzi mengatakan bahwa hadits ini tidak benar karena diantara para perawinya terdapat Aban. Syu’bah mengatakan bahwa berzina lebih aku sukai daripada aku meriwayatkan hadits dari Aban. Ahmad, Nasai dan Dauquthni mengatakan bahwa hadits ini tidaklah diambil karena didalamnya terdapat Amar bin al Azhar. Ahmad mengatakan bahwa hadits ini maudhu’u (palsu). (Al Maudhu’at juz II hal 205 – 206)

Tentang permasalahan ini, Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan didalam kitabnya “Tabyiinul ‘Ajb” hal 23 bahwa tidak terdapat riwayat tentang keutamaan dari bulan rajab, tidak puasa di bulan itu, tidak berpuasa sedikit saja dari bulan itu dan tidak pula mengerjakan qiyamullail yang dikhususkan di bulan itu.

Imam Ibnul Qayyim mengatakan didalam kitab “al Muniful Manar” hal 151 bahwa seluruh hadits yang menyebutkan bulan rajab, melakukan shalat disebagian malam-malam di bulan itu maka ia adalah pendusta dan pembohong.” (Silsilatul Ahaditsil Wahiyah juz II hal 222)

sumber: eramuslim.com

ya begitulah teman2,,Sesungguhnya ibadah tanpa ilmu tiadalah artinya…semoga bermanfaat ^_^

Pemimpin yang Ideal…(Part 1)

Sekedar sharing…

8 ciri2 pemimpin yg berprinsip menurut Stephen R. Covey:

1. Mereka terus belajar
2. Mereka berorientasi pada pelayanan
3. Mereka memancarkan energi positif
4. Mereka mempercayai orang lain
5. Mereka hidup seimbang
6. Mereka melihat hidup sebagai sebuah petualangan
7. Mereka sinergistik
8. Mereka berlatih untuk memperbarui diri

Sudahkah kita memiliki 8 ciri2 tersebut? Kalau belum maka: “Jika Anda benar2 ingin jadi PEMIMPIN, ayo lekas berTRANSFORMASI menjadi lebih BAIK!!” Salah satunya bisa dengan landasan 8 ciri2 pemimpin yg berprinsip ini ^^.

(Disarikan dari buku “Principle Centered Leadership” karya Stephen R. Covey)

Penerapan Emphaty Based Medicine dalam Dunia Kedokteran Modern



Pada era kita sekarang, teknologi berkembang pesat, arus informasi yang mengalir tiada henti menghubungkan belahan bumi satu dengan belahan bumi lainnya, alat-alat canggih mampu meningkatkan produksi industri secara pesat, dan lain sebagainya. Itulah gambaran dunia kita saat ini, penuh dengan otomasi dan kepraktisan yang diakibatkan oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini akan berdampak ke berabagai sektor dalam kehidupan kita, termasuk bidang kedokteran.
Saat ini, banyak diagnosa medis yang yang dapat diproses komputer dengan kecepatan dan ketepatan yang tak dapat didekati manusia. Sejumlah software dan program-program onlline mincul yang memungkinkan para pasien untuk menjawab serangkaian pertanyaan di layar-layar komputernya dan sampai pada tahap diagnose awal tanpa bantuan seorang dokter pun. Pelanggan pelayanan kesehatan mulai menggunakan alat-alat tersebut untuk mengetahui risiko dari penyakit-penyakit yang serius seperti gagal jantung dan kanker, lalu membuat putusan-putusan perawatan yang penting ketika mereka didiagnosa. Saat ini saja, menurut Laura Landro dalam Wall Street Journal, sekitar 100 juta orang di dunia mengakses internet untuk mencari informasi medis dan kesehatan dan mengunjungi lebih dari 23.000 situs-situs web kesehatan. Ketika pasien mendiagnosa sendiri dan menyumbat kolam informasi yang sama yang tersedia untukj para dokter, alat-alat ini sedang mentransformasi peran seorang dokter sebagai pnyedia solusi yang serba tahu dalam dunia kesehatan. Dan apabila ini terus berlanjut, di masa depan bukan hal yang mustahil apabila komputer ”mengambil alih” peran dokter secara keseluruhan.

Bidang kedokteran merupakan bidang yang memiliki kecenderungan dominasi penggunaan otak kiri. Dimana daya analisa yang berurutan berperan sangat penting untuk membangun sebuah diagnosa suatu penyakit. Menurut Daniel H. Pink dalam bukunya yang berujudul A Whole New Mind, manusia memiliki dua konsep kecenderungan dalam berpikir dan beraktivitas yaitu L-Directed Thinking dan R-Directed Thinking. L-Directed Thinking merupakan bentuk pemikiran dan sebuah sikap hidup yang merupakan ciri khas belahan otak sebelah kiri yaitu berurutan, literal, fungional, tekstual, dan analitis. Pendekatan inilah yang dihargai begitu tingi oleh dunia profesional dan ditekankan pada pendidikan para pelajar kita saat ini. Pendekatan yang kedua adalah R-Directed Thinking. Ia merupakan bentuk pemikiran dan sebuah sikap hidup yang merupakan ciri khas bagi belahan otak kanan yaitu simultan, metaforis, estetis, kontekstual, dan sintesis. Pengguanaan R-Directed Thinking suatu saat akan menjadi lebih dominan dikarenakan penggunaan L-Directed Thinking akan tergusur oleh kemampuan yang dimiliki oleh komputer dan teknologi termutakhir.

Walaupun peran dokter suatu saat sudah tidak dominan lagi, tetapi ada hal-hal yang tak dapat dilakukan oleh komputer dan tekonologi modern. Hal tersebut ialah kemampuan berempati dengan pasien yang merupakan salah satu kecerdasan dari tipe R-Directed Thinking. Empati adalah kemampuan untuk merasakan apa sepertinya yang akan terjadi jika menjadi orang lain. Empati dapat mengenali emosi-emosi, empati memungkinkan kita melihat sisi lain dari sebuah argumen, empati menyenangkan seseorang yang sedang terkena malah, dan empati menyediakan kerangka pendukung bagi moralitas kita.

Keefektifan berkomunikasi didapatkan apabila sesorang yang komunikan dapat memahami maksud dari perkataan yang diucapkan oleh komunikator. Melalui empati, isyarat-isyarat non verbal yang sangat dominan dalam komunikasi akan mudah ditangkap dan dimengerti. Melalui empati ini, akan terjalin komunikasi yang baik antara dokter dan pasien yang akan menghasilkan keuntungan dalam proses penyembuhan, yaitu: Pertama, dengan berlaku empatik, seorang dokter bisa membina sambung rasa dengan pasien sehingga akan timbul keterbukaan antara pasien dan dokter. Kedua, dengan timbulnya keterbukaan antara pasien dan dokter, seorang pasiean akan lebih leluasa dan jujur untuk menyampaikan keluhannya. Ketiga, dengan merasakan apa yang pasien derita, seorang dokter akan termotivasi untuk berbuat secara maximal dalam melakukan pengobatan. Keempat, dengan adanya empati, komunikasi, dan keterbukaan, seorang pasien akan lebih termotivasi untuk terus hidup sehingga akan berdampak positif terhadap proses kesembuhan pasien. Kelima, dalam membangun suatu diagnosa, melalui empati seorang dokter bisa mengetahui pesan tersembunyi yang hanya ditafsirkan melalui pemahaman nonverbal.

Dengan pengguanaan kecerdasan empati ini, diharapkan seorang dokter dapat menjalankan fungsinya dengan lebih optimal. Sehingga seorang dokter dapat memenuhi tugas-tugas mulia yang diharapkan masyarakat seperti yang terdapat dalam sumpah dokter Indonesia, yaitu: ”Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan.”

Rekonstruksi Makna Ukhuwah Islamiyah Demi Terwujudnya Persatuan Umat



” Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk ” (Q.S. Ali Imran ayat 103).

Ayat di atas menjadi sangat relevan dengan kondisi kontemporer umat Islam, terutama di Indonesia saat ini. Perpecahan, sebagai masalah yang semestinya dicegah menurut ayat di atas, masih mewarnai sisi-sisi kehidupan umat, mulai dari skala kecil dan cabang (furu’) hingga yang skalanya besar dan pokok (ushul).

Selama ini, warna perbedaan yang bahkan ada yang menjurus kepada pertentangan di antara umat Islam pun masih kentara. Sebagai contoh Di Irak, beberapa kali kita menyaksikan aksi pengeboman terhadap sejumlah masjid yang dilakukan oleh umat Islam sendiri. Muslim Sunni merusak masjid Muslim Syi’ah, dan begitu juga sebaliknya. Hal yang sama juga kita saksikan di Pakistan dan Afghanistan. Dalam bidang fikih, sejarah Islam mengenal empat mahzab utama yaitu Hanafi, Hambali, Maliki, dan Syafi’i yang masing-masing memiliki pengikut dengan fanatisme tinggi. Di Indonesia, sudah menjadi konflik tahunan dalam penentuan awal waktu dan akhir bulan suci Ramadhan. Ada juga konflik yang dipicu oleh tindakan kekerasan FPI (Front Pembela Islam) dan AKKBP. Dalam kasus tersebut, FPI diprotes keras oleh berbagai ormas-ormas Islam di seluruh Indonesia. Bahkan berbagai ormas Islam (termasuk NU) menuntut pembubaran FPI.

Contoh-contoh seperti di atas menarik untuk dicermati karena menjelaskan bagaimana realitas sosial keberagaman dipahami atau disikapi. Sejarah sosial dan pemikiran Islam sendiri penuh kisah perbedaan sikap dan pemahaman pemeluknya yang kerapkali melahirkan konflik, bahkan peperangan. Perbedaan demikian sudah berlangsung tidak lama sesudah Nabi muhammad SAW wafat pada perempat pertama abad ke-7 Masehi.

Maka dari itu, energi umat Islam sebagai penghuni mayoritas negeri ini dan penyumbang jumlah muslim terbesar sedunia, tersedot habis oleh banyaknya pertentangan internal. Jadilah posisi umat Islam lemah, baik secara ideologis, politis, dan sosial; kondisinya persis dengan yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw, “Seperti buih di lautan,” jumlahnya banyak tapi tak signifikan eksistensinya. Potensi membina kebangkitan dan peradaban pun menjadi pesimisme sebagian kalangan.

Oleh karena itu, revitalisasi makna al-ukhuwwah al-islamiyyah (persaudaraan Islam) semestinya menjadi agenda penting dalam kehidupan umat Islam. Dengan konsep hubungan ukhuwah itulah Rasulullah Saw. berhasil membina masyarakat yang madani, penuh dengan kebaikan dan keberkahan.

Urgensi dari ukhuwah Islamiyah

“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” (Q.S. Al-Hujurat: 10).

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (Q.S. Ali-Imran: 105).
Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Barangsiapa membantu keperluan saudaranya maka Allah akan membantu keperluannya” (Muttafaq ‘alaih dari Ibnu Umar Ra.).

Berdasarkan berbagai ayat Al-Qur’an dan hadits di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat urgensi persatuan di antara umat Islam adalah yang paling penting. Konsep ukhuwah yang dibangun atas dasar ikatan akidah ini telah membawa umat menjadi kekuatan yang disegani. Konsep ini dari awal bahkan sudah menghapuskan rasialisme (ashabiyyah), baik yang bersifat kesukuan, gender, maupun warna kulit. Sebagai contoh: Ketika Rasulullah saw dan para sahabat hijrah dari Makkah ke Madinah, salah satu yang pertama kali Rasulullah lakukan selain membangun masjid adalah mempertautkan tali persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Seorang sahabat Muhajirin Rasulullah saw, Abdurrahman bin Auf, yang dipersaudarakan oleh Rasulullah saw dengan Sa’ad bin Rabi dikenal sebagai seorang saudagar yang kaya raya. Hanya saja ketika berhijrah, semua harta dan barang-barang berharga miliknya dia tinggalkan. Melihat saudaranya yang tidak mempunyai apa-apa lagi, Sa’ad bin Rabi berkata kepada Abdurrahman bin Auf, “Saudaraku, aku adalah salah seorang penduduk Madinah yang kaya raya, kau boleh lihat harta bendaku , barang perniagaanku dan sawah ladangku. Kalau kau mau, kau boleh ambil setengahnya. Saudaraku, aku juga punya dua orang istri, lihatlah mereka dan kau boleh pilih, mana yang paling menarik hatimu. Sekarang juga akan kuceraikan dan kau bisa menikahinya.

Kisah diatas memberikan sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi umat Islam. Betapa ukhuwah yang telah terpatri dalam sanubari seorang Muslim akan mampu menghasilkan sebuah hal yang mungkin tidak akan dikira sebelumnya.

Makna Ukhuwah Islamiyah

Menurut penulis, ada beberapa keutamaan dari ukhuwah yang terjalin antara sesama umat Islam. Pertama, ukhuwah menciptakan persatuan. Kisah heroik perjuangan para pahlawan bangsa negeri, bisa kita jadikan landasan betapa ukhuwah benar-benar mampu mempersatukan para pejuang pada waktu itu. Tak ada rasa sungkan untuk berjuang bersama. Tak terlihat lagi perbedaan suku, ras dan golongan. Yang ada hanyalah keinginan bersama untuk merdeka. Dan kemerdekaan hanya bisa dicapai dengan persatuan. Bukankah Imam Ali Ra. pernah berkata, ”Kebenaran yang tidak teroganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang teroganisir.” Dan satu dari sekian cara untuk dapat mengorganisir adalah dengan persatuan yang timbul dari rasa ukhuwah.
Kedua, ukhuwah menciptakan kekuatan. Ketika Rasulullah Saw. dan para sahabat bersiap-siap menghadapi orang-orang musyrik dalam perang badar, timbul rasa gentar disebagian hati umat Islam, karena mendengar musuh yang akan dihadapi jumlahnya jauh diatas mereka. Namun Rasululllah Saw. berhasil menenangkan dan mententramkan mereka. Hasilnya, para sahabat yang tadinya gentar berubah menjadi tegar, hingga ukhuwah yang telah terjalin membuahkan sebuah kekuatan maha dahsyat. Akhirnya sejarah mencatat, peperangan pertama yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. dan umatnya itu berakhir dengan kemenangan di pihak kaum muslimin. Tentu juga tidak akan pernah terpikir oleh kita bagaimana sebuah bambu runcing para anak bangsa mampu mengalahkan kaum penjajah yang berkekuatan tank-tank baja dan peralatan perang modern lainnya.

Ketiga, ukhuwah menciptakan cinta dan kasih sayang. Apa yang melatar belakangi sahabat Anshar hingga dia merelakan setengah dari hartanya dan seorang istrinya. Sebuah kerelaan yang lahir dari rasa ukhuwah yang telah terpatri dengan baik. Dulunya belum kenal sama sekali, namun setelah dipersaudarakan semuanya dirasakan bersama. Inilah puncak tertinggi dari ukhuwah yang terjalin antara sesama umat.

Sekarang, disaat ukhuwah seakan menjadi barang langka di kalangan umat Islam, seharusnya menjadikan kita berpikir keras untuk kembali menengok ke belakang. Bahwa langka awal untuk mengembalikan kejayaan umat ini adalah dengan ukhuwah. Episode kehidupan Rasul dan generasi para sahabat yang sarat hikmah mutlak harus kita teladani demi terwujudnya suatu ukhuwah yang kuat dalam diri umat Islam sendiri. Wallahu’alam.